Malin Kundang Episode 2: Janji di Dermaga – Awal Sebuah Perantauan
Pagi itu, langit di kampung nelayan disiram warna jingga keemasan. Kabut tipis menari di atas air, sementara burung camar melintas rendah, menyapa laut yang masih tenang.
Di kejauhan, sebuah kapal dagang dari negeri seberang tampak merapat perlahan, membawa rempah, kain sutra, dan cerita-cerita dari dunia yang jauh — dunia yang selama ini hanya hadir dalam mimpi Malin Kundang.
Ia berdiri di antara kerumunan orang kampung, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru melihat bintang jatuh.
Kapal itu baginya bukan sekadar perahu besar dari kayu, melainkan pintu menuju takdir.
Seolah laut berbisik kepadanya, “Ayo, waktumu telah tiba.”
Sore harinya, Malin duduk di beranda rumah panggung bersama ibunya, Mande Rubiyah.
Angin laut membawa aroma garam dan sedikit kesunyian. Malin membuka percakapan dengan suara pelan tapi pasti.
“Mak, Malin ingin ikut kapal itu. Malin ingin mengubah nasib kita.”
Kata-kata itu sederhana, tapi rasanya berat seperti ombak yang memukul karang. Mande Rubayah terdiam.
Jantungnya berdetak cepat, tapi ia berusaha tenang. Ia tahu impian anaknya bukan sekadar angan-angan bocah, melainkan panggilan seorang lelaki muda yang ingin menantang batas.
“Kalau itu jalanmu, Nak,” katanya akhirnya, “Mak ridho. Tapi bawalah doa Mak. Dan jangan lupakan kampungmu.”
Kalimat itu meluncur lembut, tapi di dalamnya ada getar yang tak terdengar — getar kehilangan.
Malam sebelum keberangkatan, suasana rumah panggung itu penuh dengan rasa yang sulit dijelaskan.
Di bawah cahaya pelita, Mande Rubiyah menyiapkan bekal untuk anaknya: nasi yang dibungkus daun pisang, sedikit ikan kering, dan sehelai kain tenun warisan keluarga.
Ia menatap kain itu lama. Benang-benang emasnya berkilau seperti doa yang dijalin tangan-tangan nenek moyang.
“Kalau kau sukses, pulanglah,” katanya sambil menyelipkan kain itu ke dalam buntalan. “Kalau kau gagal, pulanglah juga. Kampung ini selalu terbuka untukmu.”
Malin memeluk ibunya erat. Untuk sesaat, waktu seperti berhenti. Suara laut terdengar lembut, seperti sedang menjaga rahasia perpisahan itu.
“Mak jangan khawatir,” katanya.
“Malin akan kembali membawa kebahagiaan.”
Dan Mande, dengan air mata yang ia tahan, hanya menjawab, “Mak tak butuh harta, Nak. Mak cuma ingin kau pulang.”
Fajar menjemput dengan warna oranye muda di langit. Kapal besar itu kini siap berangkat.
Di dermaga, orang-orang kampung berdatangan untuk melihat perantau muda mereka.
Angin laut berhembus pelan, membawa wangi asin dan rasa haru yang menggantung di udara.
Mande Rubiyah berdiri di antara kerumunan, tubuhnya dibalut kain batik lusuh, wajahnya menahan tangis.
Malin melangkah ke kapal, memikul karung kecil berisi bekal, tapi pundaknya terasa berat oleh perasaan yang tak bisa ia jelaskan.
Ia menatap wajah ibunya untuk terakhir kali — wajah yang menyimpan cinta tanpa batas dan kecemasan tanpa suara.
“Mak!” serunya dari atas geladak.
Mande mengangkat tangan, tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Pergilah, Nak! Tapi ingat, laut itu besar, dunia itu luas, jangan sampai lupa jalan pulang!”
Kapal mulai bergerak perlahan. Layar putihnya mengembang, menangkap angin pagi. Suara teriakan pelaut dan decit tali tambat berbaur dengan debur ombak.
Malin berdiri di buritan, menatap kampungnya yang semakin mengecil — rumah panggung kecil, pohon kelapa di tepi pantai, dan sosok ibunya yang masih berdiri tegak di ujung dermaga.
Ia mengangkat tangannya, melambaikan selamat tinggal. Dalam hatinya ia berjanji:
“Aku akan kembali, Mak. Aku akan pulang dengan bangga.”
Namun laut, seperti kehidupan, menyimpan rahasia yang tak bisa ditebak.
Gelombang tenang di pagi itu bisa saja berubah menjadi badai di siang hari. Begitu pula hati manusia — lembut di awal, tapi mudah goyah ketika diuji oleh jarak dan kemewahan.
Hari-hari pertama di kapal penuh dengan kerja keras. Malin belajar dari para pelaut: membaca arah angin, menjaga tali layar, dan menakar keberanian.
Ia mendengar kisah tentang negeri-negeri jauh — tempat orang hidup makmur dan jalan-jalan berlapis batu.
Semakin jauh kapal berlayar, semakin besar rasa ingin tahunya. Tapi di sela-sela malam yang sunyi, ketika bintang-bintang berjatuhan di langit laut, wajah ibunya selalu muncul di benaknya.
Kadang ia mendengar bisikan lembut di tengah deru ombak:
“Jangan lupakan kampungmu… jangan lupakan Mak…”
Dan setiap kali itu terjadi, Malin menggenggam kain tenun pemberian ibunya — satu-satunya benda yang mengingatkannya pada rumah, pada pelukan, pada akar yang tak boleh dicabut oleh waktu.
Sementara itu, di kampung halaman, Mande Rubayah masih menjalani hari seperti biasa.
Pagi menjemputnya dengan ombak yang sama, pasar yang sama, dan harapan yang sama: bahwa suatu hari, anaknya akan pulang.
Ia tak tahu di mana Malin berada. Ia hanya tahu, laut yang memisahkan mereka juga adalah jalan yang suatu hari akan mempertemukan kembali.
Setiap senja, ia duduk di dermaga, menatap cakrawala dengan mata yang tak pernah lelah menunggu.
Kadang orang kampung berkata, “Sudahlah, Mande. Mungkin Malin sudah lupa.”
Tapi ia hanya tersenyum pelan, menggeleng, dan menjawab, “Sejauh apa pun anak pergi, doa ibu akan tetap menemukannya.”
Laut sore itu berwarna merah tembaga, seperti sedang menyimpan sesuatu.
Di cakrawala jauh, bayangan kapal perlahan menghilang di antara kabut.
Dan di tepi dermaga, Mande Rubiyah masih berdiri, menatap ke arah yang sama, menjaga janji yang belum ditepati.
💭 “Setiap anak yang berlayar membawa doa ibunya di punggung angin.
Dan setiap ibu di tepi pantai menunggu, percaya, bahwa laut tak pernah menelan kasih.”

