Air Pegunungan Murni: Ketika Kesegaran Menjadi Kontroversi
Air adalah sumber kehidupan. Ia mengalir dari pegunungan, meresap ke tanah, dan memberi harapan bagi jutaan manusia.
Namun kini, air pegunungan murni tak lagi sekadar simbol kesegaran. Ia menjadi pusat kontroversi yang menyentuh nurani publik.
AQUA, merek air minum dalam kemasan yang selama puluhan tahun dipercaya masyarakat, berada di bawah sorotan tajam.
Label “air pegunungan murni” yang menjadi identitasnya dipertanyakan. Bukan oleh pesaing, tapi oleh suara dari tanah yang kering.
Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) memanggil PT Tirta Investama, perusahaan di balik merek AQUA.
Dugaan muncul bahwa sebagian produk AQUA tidak bersumber dari mata air pegunungan, melainkan dari sumur bor industri.
Di Subang, Jawa Barat, warga menyampaikan keluhan. Sumur mereka yang dulu tak pernah kering kini harus digali lebih dalam.
Truk-truk besar berlalu membawa air dari tanah mereka, sementara akses air bersih semakin sulit didapat.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti dampak lingkungan industri air.
Ia menyebut kerusakan jalan desa, tumbangnya pepohonan, dan munculnya longsor kecil akibat lalu lintas kendaraan berat.
“Warga kekurangan air bersih, sementara perusahaan besar mengeruk keuntungan dari tanah mereka,” ujar Dedi dalam video viral.
Pernyataan itu menggema di media sosial, memperkuat sorotan terhadap dampak lingkungan industri air.
Kontroversi AQUA bukan hal baru. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pernah menyatakan perusahaan ini bersalah.
AQUA terbukti melakukan perjanjian eksklusif yang menutup ruang gerak pesaing seperti Le Minerale.
Le Minerale, sebagai pesaing utama, mengalami tekanan distribusi dan pembatasan pasar akibat dominasi AQUA.
Kini, luka lama itu terbuka kembali, ditambah dengan isu lingkungan yang mengalir deras di ruang publik.
Pertanyaan publik pun mengalir: apakah air yang kita minum benar-benar berasal dari pegunungan?
Ataukah dari mesin industri yang dingin dan dalam, jauh dari nilai keseimbangan dan keberlanjutan?
AQUA belum memberikan klarifikasi penuh. Sementara itu, kepercayaan konsumen mulai berubah dari jernih menjadi keruh.
Label air pegunungan murni tak cukup jika tak dibarengi transparansi dan tanggung jawab sosial.
Air bukan sekadar cairan. Ia adalah hak, simbol keadilan, dan cermin hubungan manusia dengan alam.
Ketika air dikuasai industri, yang hilang bukan hanya tetesnya, tapi juga rasa memiliki dan keberlanjutan bersama.
Jingga News percaya: setiap tetes air membawa cerita. Dan setiap cerita layak diperjuangkan dengan suara yang jernih.
Karena air adalah milik semua, bukan hanya mereka yang punya kuasa atas sumbernya.
Sumber: BPKN, Fajar.co.id, Espos.id, KPPU

