Jalan Rusak, Arus yang Mengajarkan Kesabaran

Antrean yang Mengalir

Jingga News – Sabtu pagi, 25 Oktober 2029, perjalanan Cikarang–Cibarusah berjalan perlahan.

Antrean panjang terbentuk setelah Prapatan EJIP, menuju putaran Lippo.

Pada pukul 06.00 WIB, kendaraan merayap dengan tertib, menyesuaikan ritme jalan.

Kerusakan jalan menjadi sebab utama, namun arus tetap bergerak dengan kesabaran.

Luka di Tengah Modernitas

Kerusakan terjadi tepat di depan Farmers Market Lippo Cikarang.

Panjang retakan sekitar tujuh hingga sepuluh meter, membentuk lubang cukup dalam.

Pengendara motor, dengan hati-hati, berusaha menghindari jebakan aspal yang terkelupas.

Setiap roda melambat, setiap langkah gas menjadi doa agar selamat.

Seorang pengemudi ojek berbagi cerita sederhana. Ia sudah setahun mencari nafkah di titik itu.

Menurutnya, jalan ini sering rusak, pernah diperbaiki, namun hanya bertahan sebentar.

Setelah beberapa hari, lubang kembali hadir, seakan menguji daya tahan.

Diam yang Menyimpan Pertanyaan

Ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab, ia hanya tersenyum.

Apakah pengelola kawasan Lippo atau Dinas Pekerjaan Umum, jawabannya tetap sunyi.

Senyum itu menjadi simbol, bahwa kadang pertanyaan lebih kuat daripada jawaban.

Di lapangan, hampir semua kendaraan memilih melambat.

Setiap pengemudi menyalakan kewaspadaan, menjaga diri dari terperosok.

Keselamatan menjadi prioritas, dan kehati-hatian menjadi bahasa bersama.

Ironi yang Menyadarkan

Lippo dikenal dengan gedung modern dan lingkungan rapi. Namun di tengah keteraturan, jalan rusak masih dibiarkan terbuka.

Ironi ini bukan sekadar pemandangan, melainkan cermin kehidupan kota. Bahwa kemajuan fisik belum selalu sejalan dengan perhatian pada dasar.

Jalan sebagai Cermin Kehidupan

Jalan rusak bukan sekadar hambatan, melainkan pengingat. Bahwa setiap perjalanan menuntut kesabaran, kehati-hatian, dan kepedulian bersama.

Aspal yang retak mengajarkan bahwa modernitas tanpa perawatan hanyalah ilusi.

Dan antrean panjang menjadi bukti, bahwa manusia mampu menyesuaikan diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *