Dari Meja Makan, Tumbuhlah Cahaya Santri
(Sebuah Refleksi dari Yayasan Pendidikan Islam Sabiilul Muhtadiin, Babelan)
1. Di Antara Hiruk Pikuk Dunia, Ada Cahaya yang Tenang
Di tengah kota yang sibuk dan hati yang sering tergesa, berdirilah Yayasan Pendidikan Islam Sabiilul Muhtadiin di Pasar Babelan.
Tempat sederhana, tapi penuh makna.
Di sini, langkah para santri bukan sekadar menuntut ilmu. Mereka menata hati, menanam akhlak, dan memupuk ikhlas.
Program “Makan Bergizi Gratis” menjadi cermin kecil dari cinta yang besar.
Bukan hanya berbagi nasi dan lauk, tapi juga berbagi rahmat, kebersamaan, dan rasa syukur kepada Allah SWT.
2. Kebersamaan yang Menyembuhkan Luka Zaman
Di bawah atap sederhana itu, para santri duduk melingkar.
Tidak ada kursi istimewa, tidak ada jarak kehormatan.
Yang ada hanya kebersamaan yang hangat, penuh keikhlasan.
Di sanalah ukhuwah Islamiyah menemukan bentuknya.
Persaudaraan tanpa pamrih, cinta karena Allah, bukan karena harta.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Perumpamaan orang beriman dalam cinta dan kasih sayang ibarat satu tubuh. Bila satu sakit, seluruhnya ikut merasakan.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Inilah pelajaran halus dari langit yang turun lewat sendok dan mangkuk nasi.
Bahwa kenyang sejati adalah ketika hati saling menyatu.
3. Kesederhanaan yang Meninggikan Derajat
Makan bersama bukan sekadar ritual harian. Ia adalah madrasah jiwa yang melatih rendah hati.
Guru duduk sejajar dengan muridnya.
Tidak ada gengsi, tidak ada sekat kasta.
Di hadapan nasi dan sayur yang sederhana, semua belajar arti cukup dan syukur.
Para santri saling mendahulukan teman. Tidak serakah, tidak terburu-buru. Setiap suapan diiringi “Alhamdulillah” — kalimat pendek yang menenangkan dunia.
Dari kesederhanaan itu tumbuhlah kemuliaan.
Karena kemuliaan sejati bukan dari meja makan yang megah, melainkan dari hati yang lapang menerima nikmat sekecil apapun.
4. Adab Adalah Cahaya Ilmu
Di Sabiilul Muhtadiin, para santri tahu:
Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa cahaya. Panas, tapi tak menerangi.
Ketika guru berbicara, mereka menundukkan pandangan.
Ketika diperintah, mereka bersegera dengan senyum tulus.
Mereka tahu, taat kepada guru adalah bagian dari taat kepada Allah.
“Barang siapa ingin mendapatkan ilmu, hendaklah ia memuliakan guru.”
(Pepatah ulama)
Sebab guru adalah lentera di tengah gelap zaman, yang menyalakan jalan menuju ridha Allah dan surga.
5. Makan yang Mengenyangkan Jiwa
Program “Makan Bergizi Gratis” di Sabiilul Muhtadiin adalah doa yang berbentuk perbuatan.
Ia mengajarkan empat hal utama:
- Kebersamaan yang menghidupkan ukhuwah.
- Kesederhanaan yang menumbuhkan syukur.
- Kerendahan hati yang menundukkan ego.
- Ketaatan yang melahirkan keberkahan ilmu.
Setiap sendok nasi adalah pelajaran.
Setiap tawa santri adalah dzikir yang hidup.
Dan setiap suapan menjadi saksi bahwa kebaikan bisa lahir dari hal sederhana.
6. Dari Meja Makan Menuju Surga Ilmu
Di sanalah, di tengah aroma sayur dan sambal, tumbuh generasi yang penuh cahaya.
Mereka belajar bahwa ilmu bukan untuk berkuasa, tapi untuk melayani.
Bahwa lapar bisa menumbuhkan empati, dan kenyang bisa menjadi ladang syukur jika diiringi doa.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)
Dari meja makan sederhana ini, lahirlah para penghafal, para pengajar, dan para penerang zaman yang kelak menuntun umat dalam gelapnya dunia modern.
7. Penutup: Syukur dari Dapur Kecil yang Mulia
Yayasan Pendidikan Islam Sabiilul Muhtadiin bukan hanya tempat belajar. Ia adalah taman ruhani yang mengajarkan makna kehidupan.
Kebahagiaan sejati, ternyata, tidak datang dari apa yang kita makan, tetapi dari dengan siapa kita makan — dan kepada siapa kita bersyukur.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat kepada para santri, asatidz, dan seluruh keluarga besar Sabiilul Muhtadiin.
Semoga mereka terus menjadi lentera di Babelan, menerangi hati-hati yang lapar akan makna dan kasih.
Aamiin ya Rabbal ‘Aalamin.
(Sumber: Setiawan B, Sahabat Gerakan Rakyat — Disarikan dan ditulis ulang oleh Jingga News)

