Menjinakkan Arus, Menyelamatkan Jembatan Cipamingkis
Sungai, Pembangunan, dan Ikrar untuk Menjaga Arus Kehidupan
Bekasi, 27 Oktober 2025 — JinggaNews.com — Di bawah langit Cibarusah yang tak pernah kehilangan gemericik kisahnya, pembangunan groundsill di bawah Jembatan Cipamingkis, Kabupaten Bekasi, menjadi simbol perjumpaan antara teknologi dan kasih sayang terhadap alam.
Di tempat di mana derasnya arus sering menggerus dinding dan harapan warga, kini tumbuh kembali semangat untuk menata, memperkuat, dan menjaga.
Inilah upaya nyata pemerintah daerah dalam pengamanan infrastruktur sungai dan pengendalian banjir di selatan Bekasi, proyek yang bukan hanya menahan air, tetapi juga merawat kehidupan di sekitarnya.
Groundsill Cipamingkis bukan sekadar pekerjaan konstruksi — ia adalah perwujudan dari doa panjang masyarakat yang ingin sungainya kembali bersahabat.
Dengan progres mencapai 60 persen, proyek senilai Rp51,3 miliar ini membawa harapan baru bahwa Bekasi tidak hanya sedang membangun jembatan, tetapi juga masa depan yang lebih kokoh dan lestari.
Pembangunan Groundsill Cipamingkis: Menata Derasnya Alam dengan Akal dan Iman
Di Kampung Loji, Desa Cibarusah Kota, deru alat berat menggema siang dan malam.
Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (SDA) mempercepat penyelesaian proyek yang menjadi bagian dari program pengendalian banjir dan pengamanan infrastruktur di wilayah selatan Bekasi.
Hendra Saputra, Kabid SDA Kabupaten Bekasi, menuturkan bahwa groundsill ini bertujuan menahan dasar sungai agar tidak terkikis serta memperlambat laju arus yang kerap merusak.
“Kami targetkan rampung sebelum akhir tahun 2025,” ujarnya kepada JinggaNews.com.
Ia menegaskan, pembangunan ini bukan semata tentang fisik, melainkan penjagaan terhadap keseimbangan antara alam dan manusia.
Proyek yang dikerjakan oleh PT Indoraya Kabeng sejak 12 Maret 2025 ini menjadi tahap ketiga pembangunan pengendalian sungai.
Pelaksanaannya dilakukan 24 jam nonstop, mencakup aliran dari hilir Bendung Cipamingkis hingga Jembatan Cibarusah, termasuk titik penghubung Desa Sirnajati dan Cibarusah Kota.
Cerita Warga: Ketika Sungai Membawa Harapan Baru
Bagi warga sekitar, pembangunan ini bukan sekadar proyek pemerintah, melainkan penebus masa lalu.
Ibu Zaenab, warga Cibarusah, menuturkan bahwa dahulu SD Negeri 01 Cibarusah di tepi sungai lenyap digerus arus.
Kini, tempat itu berubah menjadi area kerja proyek. Namun di wajahnya tidak ada duka — hanya syukur yang lembut.
“Saya senang kalau sekarang dibangun lagi,” katanya lirih.
“Dulu tanah saya banyak terbawa air. Mudah-mudahan kampung ini lebih aman.”
Kata-katanya sederhana, tapi sarat makna — bahwa pembangunan yang baik bukan hanya melahirkan struktur, tapi juga menumbuhkan rasa percaya.
Menjaga Alam, Menjaga Diri
Lebih dari sekadar beton dan baja, groundsill Cipamingkis adalah pesan lembut manusia kepada alam: bahwa kemajuan tidak harus berarti perlawanan. Ia menjadi wujud harmoni antara perhitungan insinyur dan kepekaan nurani.
Ketika proyek ini kelak selesai, Jembatan Cipamingkis tak hanya berdiri kokoh menantang waktu, tapi juga menjadi saksi bahwa di Bekasi — kota yang terus tumbuh di antara industri dan sawah — masih ada ruang bagi kebijaksanaan lama: menjaga alam adalah menjaga diri sendiri.
Dan di tepian Cipamingkis yang kini mulai tenang, kita belajar satu hal sederhana namun abadi
bahwa setiap arus, seberapa deras pun, pada akhirnya akan tunduk pada kasih dan kesungguhan manusia yang berusaha merawatnya.

