Timun Mas: Cerita Rakyat dari Jawa Tengah Episode 1 — Benih Harapan
Episode 1
Benih Harapan
Di sebuah desa kecil yang diselimuti kabut subuh, di antara hamparan sawah yang menguning pelan, hiduplah seorang perempuan tua bernama Mbok Randa Sarinten.
Orang-orang memanggilnya dengan penuh hormat — “mbok” — karena kesederhanaan dan kebijaksanaannya. Namun di balik senyum lembut itu, tersimpan sepi yang lebih dalam dari sumur tua di belakang rumahnya.
Setiap pagi, Sarinten menanam benih di ladangnya: jagung, cabai, dan mentimun. Tapi bukan itu yang ia nantikan tumbuh. Yang ia tunggu adalah suara kecil yang memanggilnya “ibu.”
Namun suara itu tak pernah datang. Hanya angin yang menyapa, dan bayangan masa lalu yang menari di dinding bambu rumahnya.
Kesepiannya bukan sekadar sunyi — ia adalah doa yang tertahan di tenggorokan, yang tak kunjung sampai ke langit. Hingga suatu malam, ketika bulan purnama menggantung di atas pohon randu, bundar dan dingin seperti mata Tuhan yang mengawasi, Mbok Randa Sarinten menengadah dan berdoa:
“Gusti, jika aku tak mampu melahirkan dari tubuhku, izinkan aku melahirkan dari harapanku.”
Doa itu naik pelan, melewati daun-daun pisang yang bergoyang, melintasi kabut, lalu menyusup ke dalam hutan tua di pinggir desa — hutan yang katanya dijaga makhluk halus. Di sanalah doa itu didengar oleh Buto Ijo, raksasa besar bermata merah saga, bertubuh hijau lumut, dengan suara seperti petir di langit kemarau.
Ia keluar dari balik pepohonan, langkahnya membuat tanah bergetar.
“Mbok Sarinten,” suaranya bergema. “Aku bisa memberimu anak. Tapi ingat, saat anak itu dewasa, kau harus menyerahkannya padaku.”
Sarinten menatap sosok itu. Dalam dirinya, cinta dan takut bertarung seperti dua arus sungai yang bertemu di muara. Tapi rindu untuk punya anak lebih kuat daripada rasa takut pada raksasa itu. Dengan suara bergetar ia menjawab pelan,
“Baiklah. Aku terima syaratmu.”
Buto Ijo mengeluarkan sebutir biji mentimun berwarna emas dari genggamannya yang besar. “Tanamlah ini. Rawat dengan cinta. Dari sanalah harapanmu akan lahir.”
Lalu ia lenyap dalam kabut, meninggalkan aroma tanah basah dan suara jauh yang tak bisa dijelaskan manusia.
Keesokan paginya, Mbok Randa Sarinten menanam biji emas itu di ladang belakang rumah. Ia menggali tanah dengan tangannya sendiri, menaburkan doa di sela butiran tanah, dan menyiraminya setiap pagi.
Hari berganti hari, bulan berganti musim. Dari tanah itu tumbuh pohon mentimun yang tak biasa — batangnya kuat, daunnya rimbun, dan satu buahnya tampak berbeda: besar, berkilau, seolah menelan sinar matahari.
Sarinten merawatnya dengan sabar. Setiap kali matahari terbit, ia menyapa buah itu seperti menyapa janin dalam kandungan:
“Tumbuhlah, Nak. Jangan takut pada dunia. Ibumu menunggumu.”
Dan ketika buah itu matang, ia memetiknya dengan hati-hati. Tangannya bergetar. Ia meletakkannya di atas tikar pandan, menatapnya lama, lalu membelahnya perlahan.
Dari dalam buah emas itu, keluarlah seorang bayi perempuan, mungil dan bercahaya.
Suara tangisnya lembut, tapi mengguncang jiwa Sarinten seperti bunyi gamelan pertama saat upacara adat: suci, penuh makna.
Air mata jatuh di pipi Sarinten.
“Anakku,” bisiknya, “kau adalah cahaya dari tanah, doa yang menjelma tubuh.”
Ia menamai bayi itu Timun Mas, karena lahir dari buah mentimun berwarna emas. Hari-hari berikutnya diisi dengan tawa kecil, suara langkah mungil, dan nyanyian pengantar tidur di bawah sinar lampu minyak. Rumah Sarinten tak lagi sepi; sawahnya lebih hijau dari biasanya, seolah bumi ikut bersyukur atas kehidupan baru itu.
Namun, di balik kebahagiaan itu, janji kelam tetap bernafas.
Sarinten tahu, waktu akan berjalan, dan Buto Ijo tak akan lupa janjinya.
Kadang, di tengah malam yang sunyi, ia terbangun karena mendengar suara dari arah hutan — suara berat yang memanggil namanya dari jauh:
“Mbok Sarinten… jangan lupa janjimu…”
Ia memejamkan mata, menahan air mata yang menggenang.
“Belum, Buto Ijo. Belum saatnya. Biarkan anakku tumbuh mengenal dunia dulu.”
Begitulah, di bawah langit Jawa yang biru dan sabana yang berdesir, Timun Mas tumbuh dalam pelukan kasih dan bayangan ketakutan.
Ia tak tahu, hidupnya adalah utang pada raksasa.
Ia tak tahu, sejak pertama kali membuka mata, takdirnya sudah diikat oleh perjanjian yang ditulis dengan suara malam.
Namun di hati Mbok Randa Sarinten, satu keyakinan tetap berakar:
“Selama aku hidup, takkan kubiarkan siapapun mengambil anakku.”
Dan dari keyakinan itulah, kisah legendaris ini mulai menapaki takdirnya
kisah tentang cinta seorang ibu yang melawan kesepian, tentang doa yang menjelma menjadi kehidupan,
tentang Timun Mas, anak dari harapan,
dari bumi Jawa Tengah yang selalu tahu cara menumbuhkan keajaiban dari air mata dan tanah.

