Timun Mas: Cerita Rakyat dari Jawa Tengah Episode 2 — Gadis yang Tumbuh dengan Rahasia

Episode 2

Gadis yang Tumbuh dengan Rahasia

Pagi-pagi di desa itu selalu lembut. Embun menempel di pucuk padi, ayam berkokok di kejauhan, dan suara lesung memecah sunyi.

Di tengah suasana itu, Timun Mas tumbuh menjadi gadis kecil yang membawa cahaya ke setiap sudut rumah bambu milik Mbok Randa Sarinten.

Ia bukan anak sembarangan. Tatapannya teduh seperti air sungai yang tenang, tapi dalamnya menyimpan tanya. Tangan kecilnya lincah membantu ibunya menumbuk padi, menyapu halaman, dan memberi makan ayam.

Setiap sore, ia duduk di depan rumah, memandangi matahari turun, seperti sedang berbicara dengan sesuatu yang hanya bisa ia dengar sendiri.

Warga desa menyayanginya.

Anak itu seperti anugerah dari dewa,” kata mereka.

Dan Mbok Randa Sarinten hanya tersenyum, menyembunyikan rahasia yang bahkan angin pun enggan membisikkannya.

Namun malam bagi Sarinten bukan waktu untuk tidur. Ia kerap duduk di beranda, menatap langit yang penuh bintang, berbisik lirih,

Gusti, jangan biarkan hari itu datang. Jangan biarkan janji itu menagih.”

Sebab di hatinya, janji kelam itu masih hidup — janji pada Buto Ijo, raksasa yang dulu memberinya kesempatan menjadi ibu.

Ia tahu, waktu tak bisa dilawan. Anak yang tumbuh adalah waktu yang berjalan. Dan waktu selalu menagih apa yang pernah dijanjikan.

Tahun berganti. Timun Mas kini beranjak remaja — parasnya ayu, matanya bercahaya seperti purnama di musim panen.

Tapi semakin ia tumbuh, semakin berat beban di dada Sarinten.

Kadang, saat Timun Mas tertidur, ia menatap wajah anaknya lama-lama, mencoba mengingat setiap garis wajah, seolah menyimpannya sebelum semuanya terlambat.

Suatu malam, saat kabut menggantung rendah di ladang, Sarinten mengambil keputusan.

Ia tak mau menyerah pada nasib tanpa perlawanan.

Dengan membawa bekal seadanya, ia berjalan menuju hutan tua di mana dulu ia pertama kali bertemu Buto Ijo.

Langkahnya gemetar, tapi hatinya teguh.

Hutan itu masih sama: lebat, sunyi, dan menyimpan aroma tanah basah. Ia terus berjalan hingga tiba di sebuah gubuk tua, di mana tinggal seorang pertapa sakti yang dikenal bijaksana dan adil.

Sarinten bersujud di depan sang pertapa, suaranya bergetar,

Kyai, saya datang membawa rahasia yang hampir menelan hidup saya. Anak saya bukan lahir dari rahim biasa, tapi dari benih pemberian raksasa. Kini saya takut, sebab waktu hampir menagih janji itu.”

Sang pertapa menatapnya lama, matanya teduh tapi dalam. Ia mengambil napas panjang, lalu berkata pelan,

Mbok Sarinten, cinta seorang ibu bisa menggoyang gunung, tapi tak bisa menghapus perjanjian dengan makhluk gaib. Namun, masih ada jalan untuk melindungi anakmu.”

Dari laci kayu tua, pertapa itu mengeluarkan empat benda sederhana:
biji mentimun, jarum, garam, dan terasi.
Benda-benda kecil yang tampak remeh — tapi dalam genggaman orang yang terdesak, mereka bisa menjadi mukjizat.

Bawalah benda-benda ini,” katanya. “Berikan pada anakmu.

Jika raksasa itu datang menagih, suruhlah ia gunakan benda ini dalam pelariannya.

Tapi ingat, bukan benda yang menyelamatkan, melainkan keberanian dan kecerdikan yang menuntunnya.”

Sarinten mencium tangan sang pertapa, lalu pulang dengan langkah berat tapi hati yang sedikit lebih tenang.

Ia menggenggam keempat benda itu erat-erat — seperti menggenggam hidup anaknya sendiri.

Sesampainya di rumah, malam masih panjang. Timun Mas sudah tertidur, wajahnya damai.

Sarinten duduk di tepi ranjang, menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia mengeluarkan kantong kecil berisi benda-benda dari sang pertapa, menyimpannya di tempat rahasia di dapur.

Anakku,” bisiknya,

“aku tahu hari itu akan datang. Tapi ibu sudah menyiapkan segalanya. Kau akan selamat, meski aku harus kehilangan segalanya.”

Keesokan harinya, Timun Mas bangun seperti biasa. Ia tak tahu bahwa semalam, ibunya berjalan jauh ke hutan dan kembali membawa nasibnya dalam sebuah kantong kecil.

Hari-hari pun berlalu seperti biasa — tapi ada sesuatu yang berubah. Mbok Randa Sarinten lebih sering termenung.

Kadang, di tengah menumbuk padi, ia berhenti tiba-tiba, seolah mendengar sesuatu yang tak terdengar oleh orang lain.

Timun Mas mulai merasa aneh, tapi tak berani bertanya. Ia hanya memeluk ibunya lebih sering dari biasanya.

Ada getar di udara desa itu, seperti kabar yang belum diucapkan.

Malam menjelang. Angin berembus lebih dingin dari biasa. Bulan naik pelan di langit, dan di kejauhan terdengar lolongan anjing.

Mbok Randa Sarinten berdiri di depan rumah, menatap arah hutan, bibirnya bergetar.

Ia tahu, waktu itu makin dekat.

Dan di hatinya yang tua tapi kuat, ia berjanji dalam diam:

Kalau hari itu datang, aku takkan menyerah. Aku akan melawan, meski hanya dengan doa.”

Sementara di kamarnya, Timun Mas tertidur pulas, tak tahu bahwa setiap detak jantung ibunya malam itu adalah doa yang melindunginya dari gelap yang kian mendekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *