Timun Mas: Legenda dari Jawa Tengah Episode 3 — Kejaran Buto Ijo

Episode 3

Kejaran Buto Ijo

Langit desa mendung. Angin berputar aneh, membawa debu dan bisik yang asing.

Dari kejauhan, gemuruh berat bergema seperti langkah makhluk purba yang bangkit dari tidur panjangnya.

Hari yang ditakuti akhirnya datang. Hari ketika janji lama menagih bayarnya.

Dari balik kabut hutan, muncul sosok raksasa dengan kulit hijau lumut dan mata menyala bagai bara.

Tanah bergetar setiap kali kakinya menapak. Dialah Buto Ijo, sang penagih janji, datang untuk mengambil apa yang pernah ia janjikan dulu: Timun Mas.

Mbok Randa Sarinten! Saatnya kau tepati janjimu! Serahkan anakmu padaku!”

Suaranya mengguncang sawah, memecah sunyi pagi jadi ketakutan yang nyata.

Di dalam rumah bambu yang sederhana, Mbok Randa Sarinten memeluk Timun Mas erat-erat. Air matanya menetes di bahu anak itu.

Ia tahu, rahasia yang ia simpan selama ini tak bisa disembunyikan lagi.

Anakku,” bisiknya lembut,

kau bukan lahir dari rahim seperti anak lain.

Kau lahir dari benih emas—anugerah dan kutuk sekaligus.

Dan kini, raksasa itu datang menagih.

Tapi dengarlah, jangan takut. Bawalah benda-benda ini: biji mentimun, jarum, garam, dan terasi.

Gunakan saat kau terdesak. Di dalamnya, tersimpan doa dan keberanian seorang ibu.”

Timun Mas menatap ibunya dengan mata berair, setengah bingung, setengah takut.

Tapi sebelum sempat bertanya, bumi bergetar keras. Pagar bambu hancur. Buto Ijo muncul di ambang pintu, wajahnya penuh amarah.

Lari, Nak!” teriak Mbok Sarinten sambil mendorong anaknya keluar.

Selamatkan dirimu!”

Timun Mas berlari sekuat tenaga, menyusuri sawah, menembus kabut.

Di belakangnya, suara langkah raksasa terdengar seperti guntur yang tak berujung.

Kau tak bisa lari dariku, Timun Mas! Kau milikku!”

Udara jadi panas. Napasnya tersengal. Tapi keberanian tumbuh dalam dadanya, mengalahkan takut.

Ia teringat benda pertama yang dibekalkan ibunya.

Dengan cepat, ia merogoh kantong kecil di pinggangnya dan menaburkan biji mentimun ke tanah.

Ajaib! Dalam sekejap, tanah itu merekah.

Dari biji yang kecil tumbuh hutan mentimun yang lebat, batangnya menjalar, daunnya menutup jalan, durinya tajam.

Buto Ijo terperangkap. Ia mengamuk, tubuhnya tergores, tapi tak gentar.

Dengan tenaga raksasa, ia merobek batang-batang itu dan melanjutkan perburuan.

Timun Mas terus berlari.

Di setiap langkahnya, ada doa ibunya yang menyertai.

Hutan mentimun di belakangnya hancur, tapi ia tahu—ia baru melewati ujian pertama.

Kejaran itu belum usai.

Matahari mulai condong. Bayangan panjang menari di ladang-ladang sepi.

Timun Mas berlari melintasi dunia yang terasa lebih luas dan menakutkan dari sebelumnya. Tapi di setiap langkah, hatinya berbisik lirih:

Aku harus hidup. Untuk ibu. Untuk harapan.”

Dan di langit, seolah angin pun ikut mendoakan, agar seorang gadis kecil dari Jawa Tengah bisa melawan takdir dengan keberanian dan cinta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *