Timun Mas: Legenda dari Jawa Tengah Episode 4 — Lautan Garam dan Lumpur Panas

Episode 4

Lautan Garam dan Lumpur Panas

Langit sore menyala merah keemasan. Di antara desir angin yang berat, langkah-langkah kecil terus berlari, menembus belukar, menantang takdir.

Itulah Timun Mas — gadis yang dikejar oleh raksasa yang tak kenal ampun, Buto Ijo.

Tubuhnya sudah lelah, nafasnya tersengal. Tapi di belakangnya, bumi tetap bergetar.

Buto Ijo belum menyerah. Ia meraung, matanya menyala seperti bara di ujung neraka.

Timun Mas! Kau tak bisa lari selamanya!”

Suara itu menggema ke lembah-lembah, membuat burung beterbangan dan daun-daun gugur ketakutan.

Namun Timun Mas tak berhenti. Ia mengingat pesan Mbok Randa Sarinten, ibunya yang menanam cinta dan doa di setiap benda kecil yang kini dibawanya di pinggang.

Ketika jarak semakin dekat dan tanah terasa panas di bawah kaki, Timun Mas merogoh kantong kecil itu. Jemarinya menyentuh segenggam garam.

Dengan keberanian terakhir, ia menaburkannya ke tanah.

Ajaib! Tanah retak, gemeretak, lalu berubah menjadi lautan luas. Ombak asin bergulung, menghalangi langkah raksasa.

Airnya berkilau seperti kristal di bawah cahaya senja.

Buto Ijo berhenti sejenak, menggeram. Tapi amarahnya lebih kuat dari logika. Ia melangkah ke laut itu — danau asin yang mendadak lahir dari keajaiban doa.

Setiap langkahnya membuat air bergolak, tapi ia tetap menyeberang, memecah ombak dengan kekuatan besar.

Timun Mas menatap dari seberang, matanya penuh cemas, tapi kakinya tak berhenti. Ia tahu, laut garam itu hanya menunda waktu.

Tak lama, suara gemuruh terdengar lagi. Raksasa itu berhasil menyeberang.

Tanah kembali bergetar. Pepohonan tumbang. Dunia seolah ikut berlari bersama Timun Mas.

Ia merogoh benda ketiga — terasi kecil, pemberian sang pertapa sakti.

Tanpa ragu, ia melemparkannya ke tanah di belakangnya.

Sekejap, bumi bergejolak. Aroma menyengat memenuhi udara. Tanah itu berubah jadi lumpur panas, mendidih dan berputar seperti neraka yang dibangkitkan.

Buto Ijo menginjak lumpur itu tanpa sadar. Seketika kakinya tenggelam, tubuhnya terperangkap. Ia meraung keras, suaranya menggetarkan hutan dan langit.

Timun Mas! Aku belum kalah!”

Namun semakin ia berjuang, semakin dalam ia tenggelam. Lumpur panas itu menelan tubuh besar itu perlahan-lahan.

Matanya yang menyala mulai redup, raungannya pelan-pelan hilang, lalu hanya tersisa sunyi — sunyi yang dalam, seolah bumi sendiri menutup kisah kelam itu.

Timun Mas berhenti berlari. Ia berdiri di pinggir hutan, memandangi lumpur panas yang kini tenang seperti permukaan cermin.

Air matanya jatuh tanpa suara — bukan karena takut, tapi karena lega.

Ia tahu, perburuan itu telah usai.

Langit kini cerah. Burung-burung kembali bernyanyi.

Timun Mas menatap cakrawala, lalu berbisik pelan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *