Keluhan Pengendara Motor Bekasi setelah Pakai E10: Transisi Energi dan Tips Adaptasi Mesin
Jingganews.com – Bekasi,30 Oktober 2025 – Di Bekasi, banyak pengendara motor melaporkan performa mesin menurun setelah menggunakan E10.
Keluhan pengendara muncul dari tarikan motor yang berat hingga cepat panas.
Transisi energi nasional dengan bahan bakar etanol 10% menjadi perhatian pemerintah dan ahli otomotif.
Keluhan Para Pengendara & Realitas Lapangan
Di jalanan Bekasi yang padat motor-motor menyalakan cerita pengalaman baru.
Banyak pengendara mengeluhkan tarikan motor yang lesu, mesin cepat panas, atau naik tanjakan terasa berat.
“Sejak pakai E10, motor saya enggan bekerja maksimal,” kata seorang pengendara.
Yang lain menambahkan, “Tarikan awal berbeda, dan mesin cepat panas, padahal servis rutin selalu dijalankan.”
Bengkel lokal menjadi tempat adaptasi penting. Mekanik menyarankan revisi karburator, knalpot, atau injeksi agar motor lama tetap optimal.
Beberapa bengkel bahkan mengadakan konsultasi khusus untuk penggunaan E10.
Keluhan ini menunjukkan bahwa transisi energi bukan sekadar kebijakan, tetapi praktik nyata.
Bekasi menjadi laboratorium adaptasi motor dan pengendara yang selaras dengan energi baru.
Selain itu, sebagian pengendara mencatat konsumsi bahan bakar meningkat sementara mesin terasa berat saat menanjak, sedangkan yang lain merasakan tarikan lebih halus setelah penyesuaian.
Keluhan juga muncul di forum daring, dari motor mogok ringan hingga pertanyaan tentang cara perawatan optimal.
Pengendara muda dan tua setuju bahwa edukasi lebih lanjut diperlukan agar penggunaan E10 nyaman dan aman.
Suara Ahli dan Pemerintah
Ahli otomotif menegaskan E10 aman bagi kendaraan modern.
Yannes Martinus Pasaribu dari ITB menyatakan, kendaraan keluaran 2010 ke atas dapat memanfaatkan E10 secara efisien dan menekan risiko knocking.
Prof Wardana dari Universitas Brawijaya menambahkan, campuran etanol 10% tetap aman dan dapat memperpanjang umur mesin bila dirawat dengan baik.
Pemerintah juga mendukung langkah ini. Menteri Bahlil menegaskan ketersediaan E10 merata memperkuat kemandirian energi nasional.
Presiden telah memberi lampu hijau untuk implementasi E10 sebagai strategi energi hijau.
Ateng Sutisna, anggota DPR, telah mengingatkan bahwa kendaraan lama perlu penyesuaian agar transisi berjalan lancar.
Kolaborasi ini memastikan inovasi energi baru diterima secara harmonis dan bermanfaat bagi masyarakat.
Di Persimpangan Harapan & Realita
Kebijakan E10 mengalir ke kehidupan Bekasi seperti dua sungai bertemu.
Energi baru memikat dengan janji efisiensi, ketahanan, dan pengembangan bioetanol lokal.
Namun kendaraan lama dan kebiasaan pengendara membutuhkan adaptasi.
Mesin generasi lama, spare-part aus, dan servis tepat menjadi faktor penting agar transisi lancar.
Motor dan pengendara belajar menyesuaikan diri, dibantu bengkel, pasokan industri, dan regulasi pemerintah.
Transisi energi bukan sekadar kebijakan, tetapi perjalanan nyata yang menuntut kesabaran, kolaborasi, dan inovasi.
Bekasi menunjukkan bagaimana masyarakat, teknologi, dan energi hijau bisa bersinergi.
Seperti motor yang setia menapaki jalan Bekasi, kita menapaki perubahan dengan tekad dan kesabaran.
Setiap tarikan energi baru menguatkan inspirasi dan harapan.
Perubahan adalah harmoni antara masa lalu, kini, dan masa depan.
Cinta dan ketekunan yang dirawat sabar menyalakan mesin kehidupan dengan lembut namun pasti.
Bersama, kita melaju menuju hari yang lebih hijau, optimis, dan penuh keyakinan.


