Anies Baswedan di Masjid Raya Padang: Harga Diri Minang dan Semangat Perubahan Indonesia
Padang – JinggaNews.com, 31 Oktober 2025 – Kunjungan Anies Baswedan ke Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi menggugah semangat perubahan dari jantung Ranah Minang.
Di tengah ribuan jamaah, ia menegaskan bahwa harga diri orang Minang tak bisa dibeli oleh kekuasaan.
Masjid bersejarah itu menjadi panggung nilai, adat, dan filosofi Minangkabau yang berpadu dengan harapan politik nasional.
Karena itu, momentum ini menegaskan peran Sumatera Barat dalam perjalanan moral dan demokrasi bangsa.
Sambutan Jamaah dan Gema Nilai: Ketika Politik Menyatu dengan Zikir
Langkah Anies menyatu dalam barisan umat yang berzikir dan bersyukur di pelataran masjid yang sarat sejarah.
Gema azan berpadu dengan tepuk tangan warga yang menyambutnya sebagai sahabat nilai, bukan sekadar tokoh politik.
“Orang Minang punya harga diri yang tak bisa dibeli,” ucapnya lirih, namun menggugah ruang batin jemaah.
Kalimat itu menembus batas waktu, menyentuh akar marwah yang dijaga turun-temurun oleh masyarakat Minangkabau.
Jam Gadang dan Mimpi Masa Muda: Waktu, Disiplin, dan Cinta Negeri
Dalam perbincangan singkat, Anies mengenang mimpi masa muda yang sederhana namun penuh makna tentang Jam Gadang.
Ia membayangkan jam itu amat besar, seperti waktu yang berputar untuk bangsa ini.
“Jam Gadang mengajarkan ketepatan, disiplin, dan sejarah,” ujarnya sambil tersenyum kepada warga yang menyimak.
Kini, mimpi itu menjadi nyata, menyatu dengan langkahnya di tanah yang ia kagumi sejak lama.
Warisan Bung Hatta dan Semangat Minangkabau: Dari Moral ke Perubahan
Di Minangkabau, nama Bung Hatta, KH. Agus Salim, dan Sutan Syahrir bukan sekadar sejarah.
Mereka adalah cermin integritas, keberanian, dan kejujuran yang tak lekang oleh zaman.
“Dari tanah ini lahir para pejuang ide dan moral bangsa,” tutur Anies penuh keyakinan kepada jamaah.
Ia percaya, semangat Minang akan terus menyala dalam perjuangan menuju bangsa yang adil dan maju.
Adat Basandi Syarak: Filosofi Minang dalam Langkah Politik yang Jujur
Hari itu, doa dan salawat berpadu dengan harapan yang mengalir dari hati warga Ranah Bundo.
Pepatah Minang “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” menjadi penutup yang penuh makna.
Kunjungan Anies bukan sekadar agenda politik, melainkan perjalanan nilai dan cinta pada negeri.
Karena itu, harga diri, kejujuran, dan keberanian berpadu dalam satu napas perubahan.
Jejak Zikir dan Ujian Kejujuran di Ranah Bundo
Di pelataran masjid yang sunyi selepas gema doa, waktu seolah berhenti untuk memberi ruang pada makna.
Harga diri, keberanian, dan cinta pada negeri berpadu dalam langkah yang tak sekadar politis, tapi batiniah.
Seperti Jam Gadang yang terus berdetak, harapan pun berputar—menjaga marwah, menuntun perubahan.
Karena di Ranah Bundo, setiap jejak adalah zikir, dan setiap pemimpin diuji oleh kejujuran niatnya.

