Dana Reses Rp19 Juta Turun Hari Ini: Bekasi Menanti Bukti, Bukan Janji

Jingga News, Bekasi, 01 November 2025 – Hari ini, DPRD Bekasi mencairkan dana reses sebesar Rp19 juta per anggota.

Anggaran ini membuka ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasi secara langsung dalam forum politik lokal yang partisipatif.

Di tengah penyusunan APBD Perubahan 2025 dan evaluasi kinerja legislatif, reses menjadi momen penting untuk menguji janji politik dan menyusun arah pembangunan bersama.

Reses bukan sekadar jeda kerja formal. Ia menjadi panggung kecil tempat rakyat dan wakilnya bertemu tanpa podium.

DPRD Bekasi mengalokasikan Rp3 miliar untuk tiga kali reses sepanjang tahun.

Setiap anggota dewan bertugas menyerap aspirasi, menjelaskan arah kebijakan, dan membawa pulang suara warga yang kerap terabaikan.

Ketua DPRD Bekasi, Ade Sukron, menyebut reses sebagai momen strategis untuk menjelaskan tantangan fiskal dan prioritas pembangunan tahun 2026.

Dengan APBD Perubahan 2025 sebesar Rp8,3 triliun, efisiensi dan keberpihakan menjadi kata kunci.

Karena itu, reses bukan hanya tentang mendengar, tetapi juga menjelaskan: mengapa beberapa harapan harus menunggu, dan mana yang bisa segera diwujudkan.

Di Balik Angka, Ada Wajah-Wajah yang Menunggu

Di Tambun, Babelan, Cikarang, hingga Bojongmangu, warga menanti.

Mereka tidak membawa proposal, hanya cerita. Tentang jalan berlubang, air bersih yang tak mengalir, dan sekolah yang menua bersama waktu.

Mereka tidak menuntut banyak, hanya ingin didengar. Namun hari ini, mereka juga ingin tahu: apa yang sebenarnya dibawa pulang oleh Rp19 juta itu?

Dana reses bukan sekadar biaya logistik. Ia menjadi simbol kepercayaan publik.

Anggaran ini digunakan untuk menyewa tenda, menyediakan konsumsi, mencetak spanduk, dan—yang paling penting—membuka ruang dialog.

Tetapi apakah ruang itu benar-benar terbuka? Apakah suara warga masuk ke dalam notulen, atau hanya menjadi gema yang hilang di antara mikrofon dan formalitas?

Beberapa anggota dewan menggelar pertemuan di aula RW, masjid, bahkan warung kopi.

Formatnya sederhana, tetapi dampaknya dalam.

Ketika politik turun dari podium dan duduk di tikar yang sama dengan rakyat, kepercayaan mulai tumbuh kembali.

Aspirasi dan Arah Pembangunan Bekasi

Reses kali ini menjadi pintu masuk bagi penyusunan KUA-PPAS 2026.

Dokumen ini menentukan arah kebijakan dan anggaran tahun depan.

Anggota dewan menyerap aspirasi hari ini untuk menggerakkan program esok.

Namun, hanya jika suara-suara warga benar-benar dicatat, dipahami, dan diperjuangkan.

Beberapa kecamatan menyuarakan beberapa kebutuhan mendesak:

perbaikan drainase di Cibitung, penambahan ruang kelas di Setu, dan penguatan UMKM di Cikarang Selatan.

Semua itu bukan hal baru. Tetapi yang dibutuhkan bukan lagi pendataan, melainkan keberanian untuk mengeksekusi.

Plt. Kepala BPKD Bekasi, Gatot Purnomo, menyebut tidak ada kenaikan pendapatan dalam APBD Perubahan tahun ini.

Karena itu, efisiensi dan ketepatan sasaran menjadi kunci.

Reses menjadi ruang untuk menguji: apakah program yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan, atau hanya mengulang pola lama?

Transparansi dan Harapan yang Tumbuh

Sekretariat DPRD mendokumentasikan setiap kegiatan reses Anggota dan mengevaluasinya secara internal dan eksternal.

Namun lebih dari itu, warga kini menjadi pengawas yang paling jujur.

Mereka tahu kapan janji ditepati, dan kapan hanya menjadi catatan yang dilupakan.

Di tengah skeptisisme publik, reses menjadi salah satu kesempatan untuk membalikkan narasi.

Bukan sekadar datang, bicara, lalu pergi. Tetapi hadir, mendengar, dan kembali dengan rencana.

Warga Bekasi tidak lagi puas dengan janji. Mereka ingin bukti.

Mereka ingin tahu bahwa suara mereka tidak berhenti di meja dokumentasi, tetapi bergerak ke ruang anggaran dan keputusan.

Dengan APBD yang terbatas, transparansi bukan hanya keharusan, tetapi jalan satu-satunya untuk menjaga kepercayaan.

Politik lokal harus menyentuh kehidupan nyata, bukan sekadar menyentuh politik itu sendiri.

Bekasi dan Janji yang Harus Ditepati

Hari ini, dana reses Rp19 juta telah turun. Namun yang benar-benar ditunggu rakyat bukanlah spanduk atau konsumsi, melainkan kehadiran yang tulus.

Bukan sekadar datang, tetapi hadir.

Bukan sekadar mencatat, tetapi memahami.

Bukan sekadar menjanjikan, tetapi membuktikan.

Bekasi tidak menuntut keajaiban. Ia hanya ingin kejujuran.

Bahwa di balik angka, ada niat. Bahwa di balik program, ada keberpihakan. Bahwa di balik politik, masih ada kemanusiaan.

Dan pada akhirnya, politik bukan hanya tentang angka yang turun, tetapi tentang harapan yang tumbuh.

Di setiap lembar aspirasi, terselip rindu akan keadilan yang menyentuh, bukan sekadar tercatat.

Bekasi tidak menunggu keajaiban—ia hanya ingin diyakini, bahwa suara kecil pun pantas diperjuangkan dengan cinta yang besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *