Bekasi yang Menjadi Sunyi: Enam Bulan Denyut Ekonomi Rakyat Terhenti

Jingga News, 01 Nov 2925 — Ekonomi Bekasi 2025 berjalan di dua jalur: di satu sisi, pertumbuhan ekonomi nasional tampak positif, PDRB Jawa Barat meningkat, dan laporan resmi menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Namun di sisi lain, pasar tradisional Bekasi sepi, warung makan kehilangan pelanggan, dan ojek online makanan merosot orderannya.

Dari tukang sayur keliling, warung Madura, pedagang pasar, hingga tukang bangunan, semuanya menghadapi kenyataan yang sama

daya beli masyarakat menurun. Bekasi kini menjadi cermin ekonomi mikro Indonesia, menggambarkan celah halus antara laporan pemerintah yang hijau dan lapangan rakyat yang muram.

Bekasi Menahan Napas di Tengah Grafik yang Hijau

Bekasi, kota industri yang biasanya berdetak dari pasar, warung, dan tukang keliling, kini seolah menahan napas.

Hampir enam bulan, denyut ekonomi rakyat tampak berhenti, meski data resmi pemerintah dan pengamat nasional menunjukkan sebaliknya: ekonomi membaik, PDRB naik, investasi mengalir.

Di sini, di Bekasi, semua jenis manusia ada — pekerja harian, pedagang kelontong, buruh bangunan, pengusaha, mahasiswa, dan keluarga rumah tangga.

Bekasi real menjadi mikro-kosmos Indonesia, cermin yang menampilkan kontradiksi antara statistik makro dan realitas mikro.

Pasar yang Sunyi, Kursi yang Kosong

Hasil pantauan langsung Jingga News di Pasar Babelan dan beberapa pasar lain menunjukkan pemandangan aneh: pengunjung sangat sedikit, area parkir sangat lengang, hanya dua atau tiga motor terparkir di depan los.

Tukang sayur keliling berhenti lebih awal, pedagang warung makan menatap kursi kosong, dan pedagang bahan pokok menghitung waktu dengan tatapan kosong.

Sementara itu, grafik ekonomi nasional menampilkan warna hijau — ekonomi Indonesia tumbuh 4,87% di Kuartal I 2025 dan 5,12% di Kuartal II 2025 (BPS).

Namun seperti diingatkan Prof. Ari Kuncoro, “Pertumbuhan makro belum tentu mencerminkan kondisi mikro.”

Bekasi, dengan sunyinya, menjadi jeda panjang dalam orkestra ekonomi nasional.

Anomali Konsumsi: Semua Jalur Tersendat

Jika tukang sayur kehilangan pelanggan, logika sederhana menyatakan warung makan harus ramai. Tapi kini, semua jalur konsumsi tersendat: warung makan, Warung Madura, kelontong, minimarket, hingga ojek online makanan — semuanya lengang.

Warung Madura yang biasanya menjadi penopang konsumsi harian juga tidak menunjukkan lonjakan pembeli.

Fenomena ini mengisyaratkan sesuatu yang lebih dalam: seluruh rantai konsumsi rakyat berhenti berdetak.

Laporan LPEM FEB UI menunjukkan konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,98% pada Triwulan IV 2024, lebih rendah dari pertumbuhan makro.

INDEF menambahkan, konsumsi rumah tangga melemah meski kontribusinya terhadap PDB mencapai lebih dari separuh total ekonomi nasional.

Bekasi menjadi ruang tempat teori ekonomi beradu dengan kenyataan: bahwa tak semua pemulihan terasa di meja makan rakyat.

Tekanan di Sektor Mikro: Harga Naik, Pembeli Turun

Pedagang kelontong dan warung mengaku harga dari agen naik, tapi mereka tak bisa menaikkan harga ke konsumen.

Di sisi lain, pedagang pasar memilih menahan stok karena walau harga diturunkan, pembeli tetap sepi — jumlah barang terjual tak berubah.

Dampaknya merembet ke berbagai sektor: toko material sepi, proyek rumah berhenti, tukang bangunan jarang terlihat, bengkel motor dan tukang servis elektronik kehilangan pelanggan, tukang galon air isi ulang pun mengalami penurunan omzet.

Bekasi kini tampak seperti laboratorium ekonomi hidup — tempat semua teori pemulihan diuji oleh kenyataan yang dingin.

Cermin dari Bekasi untuk Indonesia

Data lapangan, laporan pemerintah, dan pendapat pakar nasional saling melengkapi:

  • Realitas Lapangan menunjukkan penurunan transaksi di hampir semua sektor rakyat kecil.
  • Secara Makro memperlihatkan PDRB dan pertumbuhan ekonomi nasional yang “membaik”.

Sementara para pakar seperti Prof. Ari Kuncoro, INDEF, dan LPEM menegaskan: melemahnya konsumsi rumah tangga bisa menahan laju ekonomi mikro dan memperlebar jurang antara angka dan rasa.

Bekasi adalah cermin ekonomi Indonesia — kota yang menampung seluruh lapisan sosial, dari buruh hingga pengusaha, dari pedagang kaki lima hingga pemilik toko besar.

Dan di sinilah paradoks itu terasa paling nyata: saat grafik ekonomi naik, kehidupan di lapangan justru menurun.

Penutup

Barangkali Bekasi tak sedang sepi, hanya sedang berpikir.

Di antara lampu-lampu warung yang mulai redup dan pasar yang bernafas pelan, ada denyut yang belum padam — denyut orang-orang kecil yang tetap bangun pagi, menata dagangan, menyalakan kompor, meski pembeli tak lagi seramai dulu.

Di balik sunyi ini, ekonomi bukan sekadar angka; ia adalah cerita manusia yang menakar harapan dengan timbangan sederhana.

Dan mungkin, dari diam panjang Bekasi, Indonesia sedang belajar satu hal penting: bahwa pertumbuhan sejati bukan hanya tentang grafik yang naik, tapi tentang hati yang tetap berjuang di tengah lengang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *