Anies Baswedan Serukan Keadilan Anggaran: “Rakyat Harus Menikmati Hasil dari Uang Mereka Sendiri”

Jingga News, (04/11/2005) — Di Padang, Anies Baswedan berbicara tentang arah pembangunan yang lebih adil.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan sejati bukan diukur dari megahnya proyek, tetapi dari seberapa dalam manfaatnya dirasakan rakyat.

Kritiknya mengalir tenang, tapi meninggalkan gema tentang cinta dan tanggung jawab kepada negeri.

1. Suara dari Ranah Minang

Padang sore itu beraroma hujan dan semangat.

Di Axana Hotel, Anies Baswedan berdiri dengan ketenangan khasnya.

Ia bukan sekadar berbicara politik, tetapi menyentuh urat nadi bangsa.

Acara pelantikan DPW Gerakan Rakyat, Selasa (4/11/2025), menjadi panggung bagi pesan kebijaksanaan.

Menurut Anies, negara harus mengutamakan manfaat langsung bagi rakyat, bukan hanya citra yang bersinar sementara.

Ia mengingatkan, di tengah tekanan ekonomi, kebijakan yang peka jauh lebih berarti daripada pesta yang megah.

Negara tidak boleh sibuk mengejar seremoni,” katanya lembut namun dalam.

2. Antara Pencitraan dan Kesejahteraan

Anies berbicara dengan tenang, namun setiap katanya seperti mengiris kesadaran publik.

Ia menekankan pentingnya pengelolaan belanja negara yang berpihak pada kebutuhan dasar warga.

Rakyat, ujarnya, tidak membutuhkan kemewahan proyek, tapi kehadiran negara di dapur dan di ladang mereka.

Setiap rupiah harus kembali dalam bentuk harapan dan kesejahteraan, bukan simbol dan seremoni.

Pembangunan sejati lahir dari kehadiran nyata di kehidupan rakyat,” ujar Anies menegaskan.

3. Kritik Elegan untuk Proyek Mewah

Tanpa menyebut dengan nada sinis, Anies menyinggung kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh).

Proyek itu, katanya, membawa beban utang hingga Rp116 triliun, yang kini dipikul seluruh rakyat.

“Yang menanggung dari Sabang sampai Merauke, tapi yang merasakan hanya sebagian kecil,” ucapnya dengan lirih.

Baginya, pembangunan tidak boleh melahirkan ketimpangan baru.

Ia menyerukan agar keadilan pembangunan menjadi roh setiap keputusan ekonomi.

Bukan hanya untuk kota besar, tapi juga untuk desa-desa yang masih menunggu perhatian.


4. Janji kepada Masa Depan

Anies memandang utang negara sebagai janji kepada generasi berikutnya.

Janji itu, katanya, harus dibayar dengan rasa tanggung jawab dan cinta tanah air.
Gunakan uang rakyat untuk hal yang rakyat rasakan,” ujarnya menutup pidato dengan senyum yakin.

Kata-katanya memantul ke dinding ruangan, menembus hati yang mendengarnya.

Ia tidak menjual marah, tapi menawarkan harapan.

Bahwa arah bangsa bisa diperbaiki dengan niat yang jernih dan hati yang tulus.

5. Senja, Harapan, dan Cinta Negeri

Ketika acara usai, langit Padang mulai berwarna jingga tembaga.

Suara tepuk tangan menggema, sehangat harapan yang baru disemai.

Di balik kritiknya, Anies menyelipkan keyakinan: Indonesia masih bisa tumbuh dengan adil dan manusiawi.

Angin sore berhembus lembut, membawa pesan yang romantis — bahwa cinta pada negeri bukan sekadar kata, tapi tindakan yang sederhana dan tulus.

Dan mungkin, di antara gemuruh pembangunan, keadilan akan kembali menemukan rumahnya di pelukan rakyat sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *