PSO Transportasi Publik: Manfaat vs Untung-Rugi bagi Rakyat
Kualitas Layanan dan Standar Implementasi PSO
Besar kecilnya anggaran PSO hanya berarti jika layanan nyata, nyaman, dan adil bagi rakyat. Tanpa kualitas dan standar implementasi, angka besar hanyalah simbol kosong.
Standar Minimum Belum Memenuhi Janji
Penelitian Nur Budi Susanto (UGM, 2023) menyoroti kekurangan fasilitas dasar di kereta PSO antarkota: CCTV terbatas, APAR tidak merata, penerangan kurang, serta toilet tidak memadai.
Angka besar ternyata tetap tidak menjamin kenyamanan dan keselamatan penumpang.
Inklusi Sosial Masih Terabaikan
Penelitian Sil A. (2023) menekankan bahwa mobilitas perempuan dan kelompok rentan masih terkekang karena desain transportasi publik yang kurang inklusif.
Anggaran tanpa strategi inklusi hanya memperkuat kesenjangan sosial.
Perspektif Pakar Nasional
Djoko Setijowarno menegaskan, kualitas layanan adalah fondasi agar subsidi dapat dirasakan manfaatnya (NU Online).
Tory Damantoro menambahkan, evaluasi PSO harus berdasar hasil nyata (Detik Travel).
Melalui Detik Travel Agus Pambagio menekankan pada pengawasan dan transparansi sebagai kunci agar subsidi publik tidak mubazir.
Perspektif Global
OECD dan International Transport Forum menunjukkan bahwa keberhasilan PSO bergantung pada standar layanan, regulasi, dan monitoring berkala.
Tundulyasaree et al. (2025) menegaskan subsidi efektif hanya jika mendorong peralihan moda dan kenyamanan bagi masyarakat.
Seperti rel kereta menuntun kereta melewati lembah dan sungai, standar dan kualitas layanan menuntun subsidi agar sampai ke tangan yang tepat.
Pada bagian selanjutnya, kita akan kritisi Beban fiskal PSO bisa menjadi pedang bermata dua: janji kemakmuran atau risiko berat bagi APBN dan APBD jika tidak dikelola dengan cermat.

