PSO Transportasi Publik: Manfaat vs Untung-Rugi bagi Rakyat
Proyeksi Beban Fiskal dan Risiko Masa Depan
Beban fiskal PSO bisa menjadi pedang bermata dua: janji kemakmuran atau risiko berat bagi APBN dan APBD jika tidak dikelola dengan cermat.
Biaya Proyek Transportasi Publik
Proyek Whoosh menelan biaya US$7,2 miliar (~Rp110 triliun).
Jika target penumpang gagal tercapai atau integrasi moda kurang maksimal, risiko fiskal meningkat.
Anggaran besar yang tampak heroik bisa menjadi beban nyata bagi rakyat melalui pajak dan pengurangan layanan publik lain.
Pendapat Pakar Nasional
Djoko Setijowarno menekankan fokus subsidi ke daerah 3T agar dampak sosial maksimal dan risiko fiskal bisa diminimalkan (NU Online).
Tory Damantoro menambahkan, integrasi moda dan perencanaan jangka panjang penting agar investasi tidak mubazir (Detik Travel).
Agus Pambagio di Detik Travel menegaskan keberlanjutan transportasi publik bergantung pada political will dan pengawasan ketat.
Perspektif Global
Aldal M. Ø. (2025) menunjukkan hanya 2,2% target mitigasi iklim ASEAN terkait transportasi publik tercapai.
OECD menegaskan keberhasilan PSO membutuhkan perencanaan fiskal matang, indikator manfaat jelas, dan monitoring berkala agar angka besar tidak menjadi bumerang fiskal (OECD)
Inti Poin
Beban fiskal hanya bisa dikelola dengan perencanaan matang, integrasi moda, dan indikator manfaat yang jelas.
Tanpa itu, janji heroik dapat menimbulkan risiko nyata bagi keuangan negara dan rakyat.
Seperti jembatan yang menahan ribuan kendaraan melewati sungai deras, perencanaan fiskal harus kokoh agar janji besar tidak runtuh menimpa rakyat.
Pelajaran dunia menegaskan: angka besar dan janji heroik hanya efektif jika direncanakan matang, diukur, dan diawasi ketat.

