Anies Baswedan: “Rakyat Menanggung, Hanya Segelintir yang Menikmati” — Kritik Tajam untuk Proyek Kereta Cepat Whoosh

Jingga News, Padang, (4/11/2025)—  Angin sore Padang berhembus lembut, membawa pesan yang bukan sekadar kata, tapi panggilan nurani bangsa.

Di tengah Dialog Kebangsaan Vox Populi, Suara Rakyat, Anies Rasyid Baswedan berdiri tegap, menorehkan kritik tajam namun sarat kepedulian: sebuah renungan tentang keadilan dan arah pembangunan negeri.

Di hadapan para tokoh dan masyarakat Sumatera Barat, Anies menyoroti proyek kereta cepat Jakarta–Bandung Whoosh, yang disebutnya masih menyisakan pertanyaan besar — bukan soal kecepatannya, tetapi soal siapa yang benar-benar menikmati manfaatnya.

Bagaimana mungkin proyek yang dibiayai rakyat dari Sabang sampai Merauke, justru hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil di Pulau Jawa?” tegasnya, disambut tepuk tangan hangat.

Menurut Anies, bangsa besar tidak cukup mengejar megahnya beton dan baja.

Setiap rupiah yang keluar dari kantong rakyat seharusnya kembali dalam bentuk kesejahteraan nyata.

Pembangunan harus berpihak. Rakyat yang menanggung utang, harus pula yang pertama merasakan hasilnya,” lanjutnya.

Ia menyinggung beban utang akibat proyek Whoosh yang menembus lebih dari Rp 100 triliun — bukan sekadar angka, melainkan janji masa depan yang akan dibayar generasi mendatang.

Proyek mercusuar memang tampak megah dari jauh, tetapi sering kali meninggalkan bayang panjang bagi mereka yang membiayainya tanpa pernah menaikinya,” ucapnya dengan nada teduh namun tegas.

Respons publik beragam. Sebagian warganet memandang kritik Anies sebagai suara keadilan yang jujur, sementara sebagian lain mengingatkan bahwa saat menjabat Gubernur DKI, Anies juga menandatangani izin lokasi jalur kereta cepat tersebut.

Namun bagi pendengar di Padang, pesannya lebih dari sekadar kritik: sebuah seruan moral agar pembangunan tak kehilangan hati nurani.

Anies menutup pidatonya dengan pesan yang menggema:

Kita tidak menolak kemajuan. Kita hanya ingin memastikan kemajuan itu tak meninggalkan yang lemah di belakang.”

Kritik ini bukan sekadar gugatan terhadap satu proyek, melainkan ajakan menata ulang arah pembangunan bangsa — agar setiap langkah cepat menuju masa depan tak melupakan pijakan rakyat yang menjadi fondasinya.

Sejatinya, seperti diungkap Anies sore itu di Padang:
“Negara ini bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tapi seberapa adil kita berjalan bersama.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *