Bujang Katak : Legenda Bangka Belitung Episode 1 — Anak yang Diremehkan

Anak yang Diremehkan

Cerita Rakyat Belitung – Kisah Tentang Kekuatan yang Tak Terlihat


Di sebuah desa kecil di Belitung, di antara rawa dan pohon sagu yang bergoyang pelan, hiduplah sepasang suami istri yang telah lama menanti kehadiran seorang anak.

Mereka bukan orang kaya, tapi ladang mereka cukup untuk hidup. Setiap malam, mereka berdoa dalam diam, menatap langit dan berharap.

Kalau pun tak bisa anak yang sempurna,” bisik sang istri, “biarlah ia hadir sebagai penawar sepi.”

Doa itu dijawab. Pada pagi yang sunyi, saat kabut masih menggantung di atas tanah, sang istri melahirkan.

Tapi bukan tangis bahagia yang terdengar, melainkan keheningan.

Bayi itu lahir dengan kulit bersisik, tubuh kecil, dan wajah menyerupai katak.

Mata sang ayah membeku. Sang ibu menggigil, tak tahu harus menangis atau bersyukur.

Warga desa datang, mengintip dari celah pintu dan jendela.

Mereka berbisik, menatap dengan mata yang tak bisa menyembunyikan rasa takut dan jijik.

Itu bukan anak manusia,” bisik seorang tetua.

Mungkin ibunya memakan sesuatu yang tak suci,” kata yang lain.

Anak itu diberi nama Bujang Katak, bukan karena kasih, tapi karena tak ada nama lain yang dianggap pantas.

Ia tumbuh dalam bayang-bayang penolakan.

Tak ada yang menggendongnya selain ibunya, dan itu pun dengan ragu.

Ayahnya jarang menatap matanya. Ia lebih sering pergi ke ladang, pulang larut, dan tidur membelakangi.

Bujang Katak tumbuh cepat, meski tubuhnya tetap kecil dan aneh.

Ia tak pernah diajak bermain. Anak-anak lain menertawakannya, melemparinya dengan lumpur, menyebutnya “anak rawa.”

Tapi ia tak pernah membalas. Ia hanya menatap mereka dengan mata bulatnya yang tenang, lalu pergi ke tepi sungai, duduk diam, berbicara dengan air.

Ia punya kebiasaan aneh: berbicara dengan angin, menyanyi pada burung, dan menatap langit seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tak terdengar oleh orang lain.

Kadang-kadang, ia melompat tinggi ke atas pohon, atau menghilang ke dalam hutan dan kembali dengan buah-buahan yang tak pernah tumbuh di desa.

Ibunya, meski masih menyimpan rasa takut, mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Suatu malam, saat ia sakit demam, Bujang Katak duduk di sampingnya, meletakkan tangan kecilnya di dahi sang ibu, dan berkata, “Tidurlah, Ibu. Aku akan jaga.

Esoknya, demam itu hilang. Sang ibu mulai percaya: mungkin anak ini bukan kutukan. Mungkin ia adalah jawaban yang tak dimengerti.

Namun, desa tetap menolak. Ketika ada pesta panen, Bujang Katak tak diundang.

Ketika ada musibah, ia disalahkan. Ketika seekor ayam hilang, namanya disebut. Tapi ia tetap diam.

Ia membantu diam-diam: memperbaiki pagar yang rusak, membersihkan parit yang mampet, menolong anak kecil yang tersesat.

Tapi tak ada yang tahu. Karena mereka hanya melihat kulitnya, bukan hatinya.

Suatu hari, seekor kerbau milik kepala desa terperosok ke dalam lumpur.

Orang-orang panik. Mereka mencoba menariknya dengan tali, tapi gagal.

Kerbau itu mengamuk, nyaris menendang seorang anak.

Lalu, dari balik semak, muncullah Bujang Katak.

Ia berjalan pelan, mendekati kerbau itu, menatap matanya, lalu menyentuh kepalanya dengan lembut.

Kerbau itu tenang.

Dengan satu tarikan, Bujang Katak mengangkat tali dan menarik tubuh besar itu keluar dari lumpur.

Orang-orang terdiam. Tak ada yang bersorak. Mereka hanya menatap, bingung antara kagum dan takut.

Kepala desa mendekat, ingin mengucap terima kasih, tapi lidahnya kelu. Ia hanya mengangguk, lalu pergi.

Bujang Katak kembali ke rumah, duduk di bawah pohon jambu, dan mulai menyanyi pelan.

Lagu yang tak dikenal, tapi membuat angin berhenti sejenak untuk mendengar.

Malam itu, ibunya duduk di sampingnya.

Kau tahu, Nak,” katanya,

mereka mungkin tak akan pernah benar-benar menerima.

Tapi Ibu melihatmu.

Ibu tahu kau bukan kutukan. Kau adalah kekuatan yang belum mereka pahami.”

Bujang Katak tersenyum. Ia tak butuh banyak kata. Ia hanya ingin satu hal: diterima.

Tapi jika itu tak mungkin, maka ia akan tetap menjadi dirinya sendiri—diam, kuat, dan penuh kasih.

Di kejauhan, langit mulai berubah. Awan gelap menggantung di atas hutan.

Seekor burung besar terbang rendah, membawa kabar tentang ancaman yang akan datang.

Dan ketika desa itu nanti membutuhkan pertolongan, mereka akan tahu:

kekuatan sejati tak selalu datang dari tubuh yang sempurna. Kadang, ia datang dari anak yang mereka tolak.

Dan Bujang Katak, anak yang diremehkan, sedang menunggu waktunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *