Ketika Laut Menyentuh Kota: Cerita Rob dari Utara Jakarta
Jakarta, Jingganews — Siang yang tenang di pesisir Pluit, Jakarta Utara, berubah perlahan menjadi kisah tentang air dan kewaspadaan. Pada Kamis, 6 November 2025, air laut menembus daratan, membentuk genangan yang menggoda batas antara laut dan kota.
Gelombang yang Datang Tanpa Amarah
Sekitar pukul 13.20 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Utara mencatat adanya banjir rob di sejumlah RT di RW 22, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan.
Air naik perlahan, tapi pasti. Di RT 001 dan RT 002, ketinggian air mencapai 25 sentimeter, sementara di RT 005, genangan lebih ringan, sekitar lima sentimeter.
“Banjir rob melanda sejumlah RT di RW 22 Pluit sekitar pukul 13.20 WIB,” tutur Kasatgas BPBD Jakarta Utara, Vitus, di Jakarta.
Ketika Air Datang Dua Kali
Waktu berlalu, namun laut belum berhenti berbicara. Pukul 15.30 WIB, gelombang pasang kembali datang, membasuh dua RT yang sama—kali ini dengan ketinggian sekitar 15 sentimeter.
Meski demikian, situasi tetap terkendali. Warga tetap beraktivitas, kendaraan masih bisa melintas, dan kehidupan berjalan dengan ritme yang sedikit lebih pelan.
“Banjir mulai surut sekitar pukul 14.20 WIB,” kata Vitus menambahkan, menandai surutnya air sekaligus naiknya kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan.
Petugas di Tengah Genangan
Tanpa menunggu perintah panjang, personel BPBD segera turun ke lapangan. Mereka memastikan kondisi aman, membantu warga, dan memantau agar air tak kembali meluas.
Gerak mereka tenang, tapi tegas—seperti ritme detak jantung kota yang menolak kalah dari arus laut.
Papanggo dan JIS: Saksi Bisu dari Gelombang
Bukan hanya Pluit yang merasakan sapaan laut. Di Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, genangan rob juga muncul di Jalan RE Martadinata, tepat di depan Jakarta International Stadium (JIS).
Ketinggian air sekitar 10 sentimeter—cukup untuk menandai

