Delapan Tersangka Korupsi Minyak Pertamina Resmi Disidang, Satu Buron Masih Menanti Red Notice
Jingga News, Jakarta, (07/11/2025) — Di pelataran keadilan, delapan tersangka korupsi minyak mentah dan produk kilang Pertamina siap menghadapi persidangan Tipikor Jakarta Pusat.
Sementara satu nama besar, Riza Chalid, masih menghilang di luar negeri menunggu red notice Interpol.
Gelombang hukum terus menggulung, menyingkap luka finansial di balik laporan laba, menguji tanggung jawab jabatan, amanah rakyat, tata kelola energi.
Integritas bisnis, memperlihatkan bahwa hukum dan keadilan tetap menjadi saksi bangsa yang tak bisa diabaikan.
Langit Keadilan Berguncang
Di atas ibu kota, langit seakan bergetar. Aroma korupsi yang lama tersembunyi di antara kilang dan jalur minyak negeri kini tercium tajam.
Kejaksaan Agung menutup satu babak penyidikan besar, menyerahkan delapan tersangka ke pengadilan — tanda bahwa denyut keadilan mulai terasa.
“Hari ini telah diserahkan, tersangka dan berkas juga barang bukti dari penyidik ke penuntut umum di Kejari Jakarta Pusat, atas klaster kedua ya, atas nama delapan tersangka,” ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Anang Supriatna.
Dari Laporan Laba ke Luka Negeri
Kasus ini membentang dari 2018 hingga 2023 — masa ketika manajemen energi menjadi denyut ekonomi bangsa.
Di balik angka-angka, laporan laba, dan grafik yang rapi, tersimpan luka yang menodai keuangan negara.
Dugaan permainan licik, yang diam-diam memotong amanah rakyat, kini dibuka ke cahaya hukum.
Delapan tersangka didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Tipikor serta Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Tim Jaksa Penuntut Umum menyiapkan berkas surat dakwaan untuk segera melimpahkan perkara ke Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.
Delapan Bayangan di Pelataran Hukum
Mereka kini berdiri di persimpangan hukum:
- Arief Sukmara (AS) – Direktur Gas, Petrokimia & Bisnis Baru PT Pertamina International Shipping (PIS)
- Dwi Sudarsono (DS) – VP Product Trading ISC Pertamina (2019–2020)
- Hasto Wibowo (HW) – SVP Integrated Supply Chain Pertamina (2018–2020)
- Toto Nugroho (TN) – VP Intermediate Supply PT Pertamina (2017–2018)
- Indra Putra Harsono (IP) – Business Development Manager PT Mahameru Kencana Abadi
- Alfian Nasution (AN) – VP Supply dan Distribusi PT Pertamina (2011–2015)
- Martin Haendra Nata (MH) – Business Development Manager PT Trafigura (2019–2021)
- Hanung Budya Yuktyanta (HB) – Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (2014)
Masing-masing membawa cerita yang sama, jabatan, dan masa-masa ketika keputusan mereka memengaruhi denyut energi bangsa.
Kini semuanya digiring bersama untuk mepertanggungjawabkan perbuatannya.
Satu Nama Besar Masih Menyelinap
Di antara bayangan delapan itu, satu figur besar tetap menghilang: Riza Chalid.
Sang Beneficial Owner PT Tangki Merak dan PT Orbit Terminal Merak masih berada di luar negeri, menunggu red notice dari Interpol sebelum bisa menghadapi hukum.
“Belum dilimpahkan, karena berkasnya terpisah. Kami masih menunggu red notice dari Interpol,” jelas Anang.
Gelombang Keadilan Mengalir
Sebelumnya, Kejagung RI telah melimpahkan sembilan tersangka dalam klaster pertama, yang kini menunggu putusan di ruang persidangan.
Gelombang penegakan hukum ini bukan sekadar vonis di kertas, melainkan peringatan bagi siapa pun yang mencoba menodai amanah rakyat.
Di pelataran BUMN energi raksasa, keadilan bergerak pelan, tapi pasti — menuntun bangsa pada masa depan yang lebih bersih dan terang.
“Di tengah gelombang hukum dan persidangan yang bergelora, keadilan tetap bersemi seperti cahaya senja — lembut namun tegas, menuntun hati bangsa untuk percaya bahwa setiap amanah, sekecil apapun, pantas dicintai dan dijaga.”

