Soeharto dan Wajah Baru Nasionalisme Indonesia: Kontroversi, Luka, dan Harapan di Ujung Reformasi
Menyulam Ingatan, Menakar Kepahlawanan
Bangsa yang besar bukan yang melupakan luka, tapi yang mampu menatapnya dengan jujur. Kontroversi pengusulan Soeharto sebagai pahlawan nasional kembali membuka percakapan lama tentang makna jasa, kekuasaan, dan ingatan kolektif kita sebagai bangsa.
Menimbang Warisan
Nama Soeharto selalu menjadi ruang perdebatan: antara yang melihatnya sebagai Bapak Pembangunan dan yang mengingatnya sebagai satu sosok/simbol pelanggaran HAM.
Dalam pusaran ini, kita dihadapkan pada pertanyaan sederhana tapi dalam: adakah ruang bagi rekonsiliasi tanpa pengingkaran?
Membaca Ulang Sejarah
Sejarah tak pernah hitam-putih. Ia adalah kain panjang yang penuh warna—ada merah perjuangan, ada abu-abu kesalahan, dan ada putih harapan.
Pengusulan Soeharto sebagai pahlawan nasional bukan hanya soal gelar, tapi soal bagaimana bangsa ini ingin membaca dirinya sendiri di masa depan.
Dari Pendahuluan ke Bab-Bab Berikutnya
Tulisan berseri ini mencoba berjalan di antara keduanya—antara penghormatan dan kejujuran, antara luka dan cinta.
Dari halaman pertama hingga keenam, kita akan menelusuri argumentasi, harapan, dan refleksi yang membentuk wacana besar ini: apakah Soeharto pantas disebut pahlawan nasional?
“Mengulas sejarah bukan untuk menghakimi, tapi untuk memastikan bangsa ini tak kehilangan arah.”
Lanjut ke: Kontroversi di Balik Gelar Pahlawan Nasional

