Zika Virus — Ancaman Klasik yang Tetap Hidup di Era Modern
Nyamuk dan Zika: Ancaman Global yang Tetap Hidup
Jingga News, (08/11/2025) — Zika virus, penularan nyamuk Aedes, kesehatan ibu hamil, risiko bayi lahir dengan mikrokefali, kesiapsiagaan komunitas, edukasi publik, pengendalian vektor, wilayah tropis dan subtropis, serta perubahan iklim — semua elemen ini saling terkait dalam ancaman nyata yang melintasi benua dan zaman.
Sejarah Zika Virus
WHO mengatakan bahwa Zika virus pertama kali ditemukan pada 1947 di Uganda pada monyet Rhesus, kemudian menyebar ke Asia dan Pasifik sebelum muncul wabah besar di Brasil pada 2015–2016.
Puncak perhatian global memang telah berlalu, tetapi ancaman virus ini tetap ada karena nyamuk Aedes mampu bertahan dan berkembang biak di lingkungan tropis dan subtropis.
Zika mengingatkan kita bahwa ancaman klasik tidak boleh diabaikan hanya karena dunia fokus pada teknologi dan isu digital.
Relevansi Zika di Era Modern
Ahli kesehatan menekankan bahwa Zika tetap menjadi ancaman bagi masyarakat global.
Perubahan iklim dan urbanisasi memperluas wilayah persebaran nyamuk Aedes, yang berarti banyak area yang sebelumnya dianggap aman kini berpotensi terinfeksi.
WHO menekankan pentingnya pemantauan aktif, edukasi masyarakat, dan pengendalian vektor sebagai langkah preventif.
Strategi ini merupakan penggabungan pengetahuan tradisional dengan inovasi modern untuk melindungi generasi mendatang.
Dampak Potensial Zika
Bagi ibu hamil, infeksi Zika dapat menyebabkan bayi lahir dengan mikrokefali dan gangguan saraf bawaan.
Selain itu, orang dewasa juga berisiko mengalami komplikasi neurologis, seperti Guillain-Barré syndrome. WHO menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat dan edukasi publik adalah kunci untuk mengurangi risiko tersebut.
Seperti bayangan senja yang tak pernah benar-benar pergi, Zika tetap mengintai di genangan air dan pepohonan tropis.
Selanjutnya, temukan bagaimana Zika menular dan siapa yang paling rentan — lanjut ke halaman berikutnya!

