Penolakan Kader Gerindra terhadap Budi Arie: Konsolidasi Nilai di Tengah Arus Politik Terbuka

Jingga News, (09/11/2025) Penolakan kader Gerindra, Budi Arie, ideologi partai, konsolidasi akar rumput, loyalitas nilai, tahun politik—di tengah arus politik yang terbuka, suara “tidak” menjadi nyanyian sunyi tentang cinta pada prinsip.

Penolakan Kader Gerindra terhadap Budi Arie: Menjaga Rumah Ideologi dari Dalam

Di awal November yang hangat, suara-suara dari Pati, Garut, Bandung, dan Sukoharjo bergema pelan tapi tegas: “Kami menolak.”

Bukan karena benci, bukan karena takut, tapi karena cinta pada arah yang telah lama dijaga.

Wacana masuknya Budi Arie Setiadi ke Partai Gerindra memantik nyala kesadaran ideologis di akar rumput.

Ia bukan sekadar tokoh eksternal, ia adalah simbol dari arus politik yang cair, yang kadang lupa pada fondasi.

Konsolidasi Akar Rumput: Loyalitas pada Nilai, Bukan Figur

Penolakan ini bukan sekadar reaksi emosional, melainkan suatu bentuk konsolidasi ideologis.

Di tengah euforia politik terbuka, kader daerah menunjukkan bahwa loyalitas bukan pada tokoh, tetapi pada nilai-nilai yang dibangun sejak awal.

Gerindra, yang lahir dari semangat nasionalisme dan kemandirian politik, dianggap perlu memperkuat barisan internal daripada membuka pintu bagi figur yang belum teruji dalam struktur partai.

Menariknya, penolakan ini datang dari kader-kader muda dan struktural daerah, bukan dari elite pusat.

Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran ideologis di tingkat akar rumput masih hidup dan aktif.

Mereka tidak hanya menjadi pelaksana instruksi, tetapi juga penjaga arah perjuangan.

Ujian Konsolidasi Menjelang Tahun Politik

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari DPP Gerindra atau Prabowo Subianto. Tapi mungkin, diam itu adalah ruang bagi refleksi. L

Bahwa dalam politik, suara kecil bisa menjadi gema besar. Bahwa dalam partai, yang paling setia adalah mereka yang berani menjaga arah, meski harus melawan arus.

Dan di tengah riuh dunia yang terus berubah, penolakan ini adalah puisi tentang kesetiaan.

Tentang cinta yang tak selalu manis, tapi selalu jujur. L

Tentang politik yang bukan hanya tentang menang, tapi tentang tetap menjadi manusia—yang tahu kapan harus berkata “cukup,” demi masa depan yang tetap berpijak pada nilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *