Peresmian Kantor Pusat PRI: Politik Rakyat dan Konsolidasi Menuju Indonesia Emas 2045

Jingga News, (09/11/2025) — Partai Rakyat Indonesia, Ratu Enong, kantor pusat PRI, politik rakyat, konsolidasi partai, Indonesia Emas 2045—di tengah hiruk-pikuk elite, sebuah rumah kecil dibangun untuk suara yang lama dibungkam.

Kantor Pusat PRI Diresmikan: Rumah Baru untuk Politik yang Membumi

Pada 8 November 2025, Partai Rakyat Indonesia (PRI) meresmikan kantor pusatnya di Jakarta.

Gedung yang dinamai “Rumah Rakyat” itu bukan sekadar bangunan, melainkan simbol kebangkitan politik berbasis nilai.

Dipimpin langsung oleh Ketua Umum PRI, Ratu Enong, acara ini dihadiri oleh kader, simpatisan, dan tokoh masyarakat yang percaya bahwa politik bisa kembali menyentuh tanah—bukan hanya langit kekuasaan.

Ratu Enong menyampaikan pidato yang membumi dan menggugah. L

Ia menegaskan bahwa PRI hadir bukan untuk elite, tetapi untuk rakyat yang selama ini hanya menjadi penonton dalam panggung demokrasi.

Kami tidak datang untuk merebut kursi, kami datang untuk membuka pintu,” ucapnya, disambut tepuk tangan hangat.

Politik Rakyat: Konsolidasi Menuju Indonesia Emas

Peresmian kantor ini bukan hanya seremoni, tetapi langkah strategis menuju konsolidasi partai.

PRI menyatakan komitmennya terhadap cita-cita besar Indonesia Emas 2045, dengan fokus pada pendidikan politik, pemberdayaan komunitas, dan advokasi kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.

Di tengah lanskap politik yang dipenuhi transaksi dan pencitraan, PRI memilih jalan sunyi: membangun dari bawah, mendengar suara yang tak terdengar, dan menanam harapan di tanah yang lama tandus.

Kantor pusat ini menjadi titik awal perjuangan yang tidak hanya elektoral, tetapi juga spiritual—politik sebagai jalan pengabdian.

Ratu Enong dan Narasi Perubahan

Figur Ratu Enong menjadi pusat gravitasi gerakan ini.

Ia bukan hanya pemimpin partai, tetapi juga simbol dari politik yang lembut namun tegas.

Dalam setiap kalimatnya, ada harapan bahwa demokrasi bisa kembali menjadi ruang aman bagi rakyat untuk bermimpi, bersuara, dan bertumbuh.

Di tengah gedung-gedung tinggi yang sibuk menghitung suara, Rumah Rakyat berdiri tenang.

Mungkin kecil, mungkin sederhana, tapi di dalamnya ada nyala yang tak bisa dipadamkan: bahwa politik bukan hanya tentang kekuasaan, tapi tentang keberanian untuk mencintai rakyat dengan cara yang paling jujur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *