Jika Aku Muncul Lagi, Akankah Dunia Masih Menyambut?”

Ada waktu-waktu ketika aku merasa dunia berjalan tanpa aku. Seolah kehadiranku tak lagi penting, seolah senyumku tak lagi ditunggu.

Maka aku memilih diam. Menepi. Menyembunyikan diri di balik bayang-bayang yang tak bertanya, tak menuntut, tak menghakimi.

Aku tahu, ini bukan tentang menyerah. Ini tentang mencari ruang yang aman untuk bernapas.

Tentang memberi jeda pada luka yang belum sempat kupeluk.

Tentang belajar menerima bahwa tak semua hari harus cerah, dan tak semua langkah harus lantang.

Tapi di tengah keheningan itu, ada suara kecil yang tak pernah benar-benar hilang. Ia bertanya pelan, nyaris seperti bisikan:
Jika aku muncul lagi… akankah dunia masih menyambut?”

Pertanyaan itu tak selalu punya jawaban. Kadang aku hanya bisa menatap langit, berharap ada tanda.

Kadang aku hanya bisa memeluk diri sendiri, mencoba percaya bahwa kehadiranku masih berarti.

Aku ingat, dulu senyumku pernah menjadi pelipur. Bukan karena aku tak punya beban, tapi karena aku tetap memilih hadir.

Dan mungkin, itu yang sedang kupelajari kembali: bahwa keberanian bukan soal tak pernah takut, tapi soal tetap melangkah meski takut masih ada.

Cahaya tak datang untuk menghakimi. Ia datang untuk menemani. Ia tahu, aku sedang belajar membuka diri.

Ia tahu, aku butuh waktu. Dan tak apa. Tak ada yang salah dengan berjalan pelan.

Tak ada yang salah dengan sesekali berhenti, menarik napas, dan bertanya pada diri sendiri: “Apa aku masih ingin mencoba?”

Jawabannya, meski lirih, tetap ada: ya. Aku ingin mencoba. Aku ingin kembali. Bukan untuk membuktikan apa-apa, tapi karena aku layak untuk merasa utuh. Aku layak untuk merasa hidup. Aku layak untuk tersenyum, meski belum sepenuhnya sembuh.

Dan jika dunia tak menyambut seperti dulu, tak apa. Aku tak lagi menuntut pelukan yang sempurna.

Aku hanya ingin hadir dengan jujur. Dengan luka yang tak kusembunyikan, dengan harapan yang pelan-pelan tumbuh.

Insight:
Hari ini, aku tak ingin lagi bersembunyi dari terang. Jika cahaya datang, biarlah ia menyentuhku perlahan. Jika senyumku kembali, biarlah ia tumbuh dari keikhlasan. Karena aku tahu, senyumku bukan hanya milikku—ia adalah cahaya yang dunia tunggu. Dan aku, dengan segala yang kupikul, tetap layak untuk bersinar lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *