Bobibos, Jerami yang Tak Lagi Diam: Awal Nyala Bobibos dari Ladang Indonesia
Jerami yang Tak Lagi Diam
Dulu ia hanya sisa panen. Kini, jerami menyala. Bukan karena terbakar, tapi karena dihidupkan oleh harapan.
Bobibos bukan sekadar bahan bakar—ia adalah kisah tentang sesuatu yang dianggap remeh, lalu bangkit menjadi cahaya.
1. Dari Ladang yang Sunyi
Di banyak desa Indonesia, jerami adalah sisa. Setelah panen, ia dibakar begitu saja, menjadi asap yang hilang di langit.
Tapi di Jonggol, Kabupaten Bogor, jerami mendapat takdir baru. PT Inti Sinergi Formula memperkenalkan Bobibos—singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!—sebuah bahan bakar alternatif yang lahir dari limbah pertanian yang selama ini dianggap tak berguna.
Menurut laporan Kompas, jerami dipilih bukan hanya karena melimpah, tetapi juga karena menjaga harga pokok produksi tetap rendah. Pendekatan ini memungkinkan Bobibos menjadi bahan bakar yang murah, efisien, dan ramah lingkungan.
2. Riset yang Tak Viral, Tapi Vital
Bobibos bukan hasil semalam. Ia tumbuh dari riset selama lebih dari satu dekade.
Muhammad Ikhlas Thamrin, CEO PT Inti Sinergi Formula, menjelaskan bahwa proses produksi Bobibos melibatkan lima tahap ekstraksi jerami menggunakan serum khusus dan mesin rancangan sendiri.
Untuk menghasilkan 3.000 liter bahan bakar, dibutuhkan sekitar 9.000 ton jerami—setara dengan satu hektare sawah.
Tempo mencatat bahwa riset ini dilakukan secara mandiri, tanpa sokongan besar dari lembaga negara.
Justru dalam kesunyian itulah Bobibos menemukan bentuknya: sebagai bahan bakar nabati dengan nilai oktan (RON) 98,1—setara atau bahkan lebih tinggi dari Pertamax.
3. Nyala Mandiri dari Tanah Sendiri
Di tengah ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM, Bobibos hadir sebagai simbol kemandirian.
Antara News melaporkan bahwa peluncuran Bobibos di Jonggol bukan hanya uji coba teknis, tetapi juga pernyataan politik energi: bahwa Indonesia bisa berdikari, mulai dari jerami.
Armada transportasi Primajasa bahkan telah menggunakan Bobibos untuk operasional di wilayah Jabodetabek.
Hasilnya? Mesin lebih halus, efisiensi meningkat, dan biaya operasional menurun.
Tribun Medan menyebut Bobibos sebagai bahan bakar yang mampu mengurangi emisi karbon sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
4. Jerami dan Cinta yang Sama-Sama Tumbuh
Babibos bukan hanya soal energi. Ia adalah metafora tentang bagaimana sesuatu yang kecil, yang tak dianggap, bisa tumbuh menjadi penentu arah.
Seperti cinta yang tumbuh dari perhatian kecil, dari kesabaran, dari keyakinan bahwa yang sederhana bisa menjadi kekuatan.
Jerami yang dulu dibakar kini menjadi nyala. Bukan nyala api yang menghanguskan, tapi nyala harapan yang menyala pelan-pelan—dan tak padam.
Kadang, yang kita cari bukan yang paling terang, tapi yang paling sabar menyala—seperti jerami yang tak lagi diam.
🌾 Lanjut ke Seri 2: Bobibos dan Nyala Mandiri — tentang bagaimana jerami bisa menjadi simbol berdikari dan harapan energi lokal.

