Reda: Saat Hati Tidak Lagi Melawan – Monolog Reflektif

Reda Bukan Pasrah, Tapi Damai yang Tumbuh

Dulu aku sering melawan kenyataan.
Kini aku belajar bahwa reda bukan kalah,
tapi damai yang tumbuh setelah hati berhenti berperang.

Ada masa ketika aku merasa hidup adalah medan perang. Setiap kenyataan yang tidak sesuai harapan kuanggap musuh. Setiap luka yang datang kuanggap tantangan yang harus segera dikalahkan. Aku melawan dengan segala tenaga, dengan segala pikiran, dengan segala doa yang kadang terasa seperti tuntutan. Namun semakin aku melawan, semakin aku lelah. Semakin aku berusaha mengubah yang tak bisa diubah, semakin aku kehilangan diriku sendiri.

Di titik itu, aku mulai mengenal kata reda. Kata yang sederhana, tapi terasa asing. Reda bukan berarti berhenti berusaha. Reda bukan berarti menyerah pada keadaan. Reda adalah titik di mana hati berhenti berperang dengan kenyataan. Titik di mana aku bisa berkata, “Baiklah, ini yang ada. Mari kita jalani dengan damai.”

Reda bukan pasrah. Pasrah sering dipahami sebagai berhenti, sebagai kehilangan arah, sebagai tanda kalah. Tapi reda adalah sebaliknya. Ia adalah tanda bahwa aku masih hidup, masih hadir, masih berjalan—hanya saja dengan cara yang lebih lembut. Reda adalah damai yang tumbuh setelah sabar dan ikhlas. Ia adalah buah dari perjalanan panjang menahan, melepas, dan akhirnya menerima.

Dalam reda, aku belajar bahwa tidak semua hal harus dilawan. Ada hal-hal yang memang tidak bisa diubah. Ada kenyataan yang memang tidak bisa ditolak. Dan melawan hanya membuat luka semakin dalam. Reda mengajarkanku untuk berhenti melawan, bukan karena kalah, tapi karena sadar bahwa ada cara lain: cara berdamai.

Berdamai bukan berarti setuju. Aku tidak harus menyukai semua kenyataan. Aku tidak harus merasa bahagia dengan semua yang terjadi. Tapi aku bisa memilih untuk tidak melawan. Aku bisa memilih untuk hadir dengan tenang. Aku bisa memilih untuk menerima tanpa kehilangan diriku sendiri. Itulah reda.

Reda juga bukan tentang diam. Ia bukan tentang menghilang. Ia adalah tentang hadir dengan cara yang tidak melukai. Tentang tetap berjalan, meski jalannya tidak lurus. Tentang tetap hidup, meski tidak sesuai harap. Reda adalah cara untuk tetap ada, tanpa harus berperang.

Dalam reda, aku menemukan ruang. Ruang untuk bernapas. Ruang untuk berpikir. Ruang untuk merasakan. Ruang untuk tidak terburu-buru. Ruang untuk tidak memaksakan. Ruang untuk menjadi manusia yang utuh, bukan hanya manusia yang ingin menang. Reda memberi jeda. Dan dalam jeda itu, aku menemukan diriku sendiri.

Aku mulai belajar bahwa reda adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk tidak melawan. Keberanian untuk tidak membalas. Keberanian untuk tidak membuktikan. Keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri, meski dunia meminta sebaliknya. Reda adalah keberanian yang lembut, tapi dalam.

Reda juga mengajarkanku bahwa luka tidak harus selalu disembuhkan dengan cepat. Kadang, luka hanya perlu diberi ruang. Dibiarkan bernapas. Dibiarkan perlahan. Dan dalam reda, aku menemukan bahwa luka bisa menjadi guru. Ia bisa mengajarkanku tentang kelembutan. Ia bisa mengajarkanku tentang kesabaran. Ia bisa mengajarkanku tentang cinta yang tidak tergesa.

Jadi jika suatu hari kamu merasa hidup terlalu berat, jangan buru-buru melawan. Duduklah sebentar. Tarik napas. Dengarkan hatimu. Dan biarkan reda mengajarkanmu cara berhenti berperang. Sebab reda bukan tentang kalah, tapi tentang damai yang tumbuh setelah hati berhenti melawan.

Reda adalah cahaya kecil yang muncul di tengah gelap. Ia tidak menghilangkan gelap, tapi memberi arah. Ia tidak membuat luka hilang, tapi membuat luka terasa lebih ringan. Ia tidak mengubah kenyataan, tapi mengubah cara kita melihat kenyataan. Dan itu cukup untuk membuat hidup terasa lebih lembut.

🌿 Lanjutkan perjalanan batinmu…
Temui reda dalam bentuk lain: bukan sebagai kelemahan, tapi sebagai kekuatan yang lembut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *