Terik Siang Cibarusah, Penjual Es Selendang Mayang Setia Lestarikan Kuliner Betawi

Jingga News, Cibarusah, (22/11/2025) — Cuaca terik yang menyelimuti Cibarusah siang ini tak menyurutkan aktivitas di pasar tradisional.

Di tengah hiruk pikuk dan sengatan matahari, tim jingganews.com menemukan sebuah gerobak sederhana yang menyajikan minuman pencuci mulut khas Betawi: Es Selendang Mayang.

Kuliner Warisan yang Kian Langka

Es Selendang Mayang merupakan minuman tradisional Betawi yang dikenal sejak abad ke-19.

Hidangan ini terdiri dari lapisan puding berwarna merah, putih, dan hijau, terbuat dari campuran tepung sagu aren, tepung hunkwe, dan tepung beras.

Puding kenyal tersebut kemudian disajikan dengan kuah santan gurih, sirup gula merah manis, dan es batu.

Sekarang penjual Selendang Mayang sudah jarang, pak. Tapi Amang tetap jualan supaya kuliner Betawi nggak hilang,” ujarnya sambil mengiris puding berwarna-warni itu.

Rasa Otentik di Tengah Panas Kota

Tim jingganews.com sempat mencicipi Es Selendang Mayang tersebut.

Perpaduan manis gula merah, gurih santan, dan kenyalnya puding menghadirkan sensasi segar yang pas untuk melawan teriknya siang.

Tak hanya menyegarkan, minuman ini juga membawa nuansa nostalgia—mengingatkan masa ketika jajanan tradisional Betawi mudah ditemui di sudut-sudut kampung.

Identitas Budaya yang Perlu Dijaga

Keberadaan pedagang seperti sang amang menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional memiliki nilai sejarah dan budaya yang layak dilestarikan.

Di tengah derasnya arus kuliner modern, jumlah penjual Selendang Mayang semakin berkurang, sehingga eksistensinya perlu mendapat perhatian.

Pelestarian makanan khas ini bukan hanya tanggung jawab pedagang, tetapi juga masyarakat agar tetap memilih dan menghargai kuliner lokal.

Romantika di Balik Segelas Selendang Mayang

Di tengah panasnya Cibarusah, Es Selendang Mayang bukan sekadar pelepas dahaga. Ia adalah bagian dari identitas budaya Betawi yang bertahan berkat dedikasi para penjajanya.

Setiap lapisan puding berwarna, setiap tetes santan dan gula merah, seolah menyimpan cinta yang diwariskan dari generasi ke generasi — cinta yang membuat rasa manisnya bukan hanya di lidah, tetapi juga di hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *