Truk Mayat Turun dari Hulu: Duka di Balik Gelondongan Kayu Terseret Banjir
JINGGA NEWS — ACEH TAMIANG & Sumatera Utara/Sumatera Barat.
Tragedi banjir dan longsor akhir November 2025 mengungkap dua wajah kedukaan: bukan hanya air dan lumpur yang menenggelamkan rumah, tetapi juga kenangan hutan yang hilang — dan gelondongan kayu yang terbawa arus. Di Aceh Tamiang, hilangnya nyawa dalam jumlah besar membuat satu truk jenazah turun dari hulu, sementara di banyak sungai di Sumatra terlihat kayu gelondongan hanyut menyusul bencana.
Banjir, Longsor — dan Mayat yang Terlambat Dievakuasi
Di sejumlah daerah terdampak, evakuasi korban berlangsung di tengah keterbatasan akses — jalan putus, jembatan rusak, arus deras. Warga dan relawan terpaksa mengevakuasi jenazah dengan seadanya; di beberapa titik, jenazah diangkut pakai becak barang karena ambulans tidak bisa menjangkau.
Sebuah truk penuh korban meninggal akhirnya turun dari kawasan terdampak. Truk itu menjadi simbol duka: nyawa melayang, luka yang belum tertutup, dan kesedihan yang mendalam.
Kayu Gelondongan Terseret — Dugaan Hutan yang Telah Dipangkas
Tidak lama setelah banjir, banyak titik di Sumatra — termasuk di jalur sungai besar — ramai dengan foto dan video gelondongan kayu yang terbawa arus. Temuan ini memantik kritik dan kecurigaan publik: apakah ini akibat penebangan hutan massif di hulu?
Sejumlah pihak mendesak penyelidikan serius. Seorang anggota parlemen menyatakan:
“Kita dorong pemerintah segera bentuk tim investigasi — dari mana kayu-kayu itu, kenapa bisa hanyut di banjir, apakah ada illegal logging, dan siapa pelakunya.”
Institusi Menyerah Terbukanya Dugaan — dan Janji Penyelidikan
Pemerintah tak tinggal diam. Satgas penertiban kawasan hutan telah diterjunkan.
Institusi penegak hukum — Bareskrim Polri — telah menyatakan sedang menyelidiki asal-usul kayu gelondongan yang terbawa banjir.
Pada kesempatan itu, Listyo Sigit Prabowo selaku Polri memastikan koordinasi dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (Kemenhut) untuk membentuk tim gabungan penyelidikan. “Kalau terbukti ada pelanggaran hukum, kita akan proses,” ujarnya tegas.
Ibarat Tragis: Satu Truk Mayat vs. Truk-Truk Kayu yang Pernah Lewat Tanpa Luka
Bagi warga terdampak, situasi ini bukan hanya duka individual — melainkan refleksi tragis atas apa yang hilang sebelum hujan datang: hutan, penyangga alam, dan rasa aman.
Satu truk mayat sekarang turun dari hulu — lambang duka dan kehilangan.
Sebelumnya, truk-truk kayu gelondongan pernah lewat bebas dari hulu ke hilir — tanpa bencana, tanpa kehancuran, tanpa nyawa melayang.
Dan kini, warga bertanya: apa harga kayu yang dipanen dari hutan? Seberapa besar bencana yang harus dibayar?
Tuntutan Keadilan: Investigasi, Rehabilitasi, dan Perlindungan Ekosistem
Publik — bersama anggota legislatif dan sejumlah aktivis lingkungan — menuntut:
- Pembentukan tim independen untuk menyelidiki asal-usul kayu gelondongan yang hanyut;
- Penindakan tegas jika ditemukan pembalakan liar atau pelanggaran izin hutan;
- Rehabilitasi kawasan hulu dan daerah aliran sungai (DAS);
- Pemantauan ketat atas izin eksploitasi hutan dan penggunaan lahan.
Karena nyawa yang hilang hari ini bisa jadi adalah harga yang terlalu mahal untuk kayu yang telah dibawa pergi dari hulu.
Duka, Kritik, dan Harapan Baru
Banjir dan longsor sungguh nyata — air merendam rumah, tanah meruntuhkan kaki langit, dan banyak nyawa kini hilang. Tapi yang menyakitkan bukan hanya air.
Adalah ketika satu truk mayat turun dari hulu — dan publik terhenyak mengingat truk-truk kayu yang dulu pernah lewat tanpa luka.
Kini, kepedihan itu menjadi panggilan bagi negara: pertanggungjawaban atas alam, keadilan bagi korban, dan jaminan bahwa hutan — penyangga kehidupan — tidak lagi dibayar dengan nyawa manusia.

