Jalur Masih Terkubur, Harapan Tersendat: Sumatra Barat di Ambang Perpanjangan Darurat

JinggaNews.com – Jalur masih terkubur, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat memastikan status tanggap darurat bencana banjir dan longsor kemungkinan besar akan diperpanjang hingga Senin (8/12/2025). Lambannya progres pemulihan di sejumlah titik terdampak menjadi alasan utama kebijakan ini.

Hingga kini, penanganan darurat masih berfokus pada pembukaan akses vital yang tertutup material longsor serta pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan wilayah Pesisir Selatan, Tanah Datar, dan Solok mengalami kerusakan terparah, dengan banyak jalur utama belum dapat dilalui.

Akses Terhambat dan Ribuan Pengungsi

IMG 20251208 WA0035

Material longsor yang menimbun jalan provinsi serta jalur antarkabupaten membuat distribusi logistik, bantuan medis, dan suplai ekonomi masyarakat terhambat. Kondisi tanah yang masih labil memperlambat proses pengerukan, memperbesar potensi longsor susulan.

BPBD melaporkan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak, terendam, atau berada di kawasan rawan bencana. Pemerintah daerah mempercepat penyediaan air bersih, fasilitas kesehatan, dan jaringan listrik darurat.

Pernyataan Resmi Pemerintah Daerah

Andi Rahman, Kepala BPBD Sumatra Barat, menegaskan kebutuhan waktu tambahan untuk normalisasi akses.
“Perlu masa tambahan karena jalur tertutup material longsor,” ujarnya di Kantor BPBD Sumbar, Senin (8/12).

Sementara itu, Gubernur Sumatra Barat Hendra Prakoso menyatakan keputusan final terkait perpanjangan status tanggap darurat akan ditentukan setelah koordinasi dengan pemerintah pusat.
“Keputusan setelah rapat dengan pusat, prioritas keselamatan warga,” tegasnya di Balai Pemprov Sumbar.

Perkiraan Durasi Pemulihan

BPBD memperkirakan proses normalisasi penuh di sebagian besar titik terdampak membutuhkan waktu 1 hingga 2 minggu ke depan, terutama di wilayah perbukitan yang mengalami kerusakan struktural dan kontur tanah tidak stabil.

Harapan Warga Tetap Menyala

Di tengah medan yang terluka dan cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat, optimisme warga Sumatra Barat tetap hidup. Semangat untuk bangkit bergantung pada kecepatan koordinasi lintas lembaga serta percepatan pemulihan infrastruktur dasar.

Seperti mentari yang selalu kembali meski langit diselimuti mendung, masyarakat menanti hari ketika langkah mereka kembali ringan di atas tanah yang pulih dari bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *