Gagal Panen, Akses Hilang: Banjir Bongkar Lemahnya Respons Pemerintah

Oplus_131072

Jingganews.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Karawang selama beberapa hari terakhir membawa dampak serius bagi warga di bantaran Sungai Cibeet. Selain memutus akses jalan antar-kampung, banjir juga menenggelamkan hamparan sawah yang sedang memasuki masa panen. Warga kini menghadapi keterisolasian dan potensi gagal panen yang menambah beban ekonomi mereka.

Akses Jalan Pangasinan–Tegal Luhur Lumpuh Total

Akses jalan utama yang menghubungkan Kampung Pangasinan dengan Kampung Tegal Luhur, Desa Sukamakmur, Kecamatan Telukjambe Timur, terputus total sejak Sungai Cibeet meluap beberapa hari lalu. Air keruh dengan arus deras kini menutup seluruh badan jalan yang selama ini menjadi jalur vital mobilitas warga.

Warga kesulitan beraktivitas, mulai dari bekerja, sekolah, hingga distribusi kebutuhan pokok. Tanpa jalur alternatif, kampung di sekitar bantaran Cibeet praktis terisolasi.

Sawah Menjelang Panen Ikut Tenggelam

Dampak banjir tidak berhenti pada infrastruktur. Hektaran sawah milik warga yang tinggal menghitung hari menuju panen kini terendam hingga tak terlihat batas petaknya.

Air datangnya cepat. Sawah yang tinggal sebentar lagi panen tiba-tiba tenggelam,” ujar Ujang, salah satu petani yang ditemui di lokasi.
Kami berharap pemerintah segera membuka jalur darurat, karena tanpa itu kami benar-benar terisolasi.

Padi yang selama berbulan-bulan dirawat kini rebah dan membusuk, menimbulkan potensi kerugian besar bagi para petani setempat yang bergantung pada hasil musim ini.

Respons Pemerintah: Pendataan dan Akses Darurat

Kepala Desa Sukamakmur, Dedi Rustandi, memastikan bahwa pemerintah desa telah bergerak cepat melakukan koordinasi dengan BPBD Karawang dan pemerintah kecamatan.

Tim sudah turun untuk pendataan dan langkah awal penanganan. Kami sedang menyiapkan akses alternatif sementara agar warga tidak terputus lebih lama,” ungkapnya.

Meski demikian, upaya pembukaan jalur darurat membutuhkan kondisi air yang lebih stabil. Hingga Senin (8/12), banjir belum sepenuhnya surut dan warga masih memantau perkembangan secara mandiri.

Warga Bertahan Sambil Saling Menguatkan

Di tengah kerugian yang dirasakan, warga tetap menunjukkan semangat saling bantu. Mereka berusaha menyelamatkan barang, memperkuat pinggiran rumah, dan menjaga keamanan kampung dari potensi arus susulan.

Bencana banjir ini kembali menjadi pengingat bahwa kehidupan di sekitar Sungai Cibeet masih sangat bergantung pada kondisi alam. Namun di balik genangan air yang menenggelamkan jalan dan sawah, warga tetap menyalakan harapan.

Harapan yang Tetap Mengapung

Meski situasi belum pulih, optimisme warga Pangasinan dan Tegal Luhur tidak padam. Mereka percaya banjir akan surut, jalan akan kembali terbuka, dan kehidupan akan berjalan lagi.

Bencana ini bukan sekadar tentang air yang meluap, tetapi tentang bagaimana masyarakat tetap berdiri, saling menguatkan, dan yakin bahwa setiap masa sulit akan berlalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *