Macet Horor Cileungsi Jadi Krisis Sosial
Jingga News, Cileungsi, (11/12/3026) —Macet horor Cileungsi kembali mencengkeram ruas vital Jawa Barat, menjelma menjadi krisis sosial yang menghantam kualitas hidup ribuan warga.
Kemacetan Gunung Putri–Cileungsi bukan sekadar antrean kendaraan, melainkan ancaman nyata terhadap produktivitas, pendapatan, dan hak hidup layak masyarakat.
Desakan publik kepada Gubernur Jawa Barat pun makin menggelegar, menuntut solusi konkret di lapangan.
Dampak ke Pekerja
“Hidup saya habis di jalan. Dua sampai tiga jam terjebak setiap hari. Sampai rumah sudah tinggal lelah,” ujar Rizal (34), pekerja yang setiap pagi dan sore harus melintasi jalur Cileungsi–Cikarang.
Data perkiraan menunjukkan waktu tempuh normal 30 menit kini melonjak menjadi lebih dari 120 menit. Antrean kendaraan pun mengular hingga 4 km, terutama di titik simpang menuju kawasan industri.
Usaha Kecil Terjepit
“Kirimanku sering telat. Pelanggan protes, usaha kena imbas. Kalau pemerintah tak turun tangan sekarang, kami makin terjepit,” ungkap Nur Aisyah (42), pemilik usaha kuliner rumahan.
Kecamatan Gunung Putri mencatat jumlah penduduk lebih dari 300 ribu jiwa dengan kepadatan tinggi. Arus kendaraan pekerja dan distribusi logistik semakin menekan kapasitas jalan yang terbatas.
Data Kemacetan 2023–2025
- 2023: antrean rata-rata 2 km, waktu tempuh 60 menit
- 2024: antrean 3 km, waktu tempuh 90 menit
- 2025: antrean 4 km, waktu tempuh 120 menit
Desakan Publik Menguat
Warga menuntut langkah konkret berupa penataan ulang kendaraan berat, pelebaran jalan di titik kritis, rekayasa lalu lintas, serta percepatan pembangunan jalur alternatif. Di media sosial, suara warga menyeruak tanpa jeda. Video antrean kendaraan yang mengular, keluhan pekerja yang tak pernah tepat waktu, hingga ajakan melakukan aksi serentak mendominasi lini masa.
“Ini bukan sekadar macet. Ini ancaman bagi kehidupan kami,” tulis salah satu kelompok warga dalam seruannya yang kini viral.
Harapan Warga
Harapan warga sederhana namun mendesak: pemerintah provinsi hadir, melihat langsung kondisi lapangan, dan menyusun kebijakan yang nyata, bukan imaji di atas kertas.
Bagi warga Cileungsi dan sekitarnya, menyelesaikan macet horor bukan lagi permintaan—melainkan hak hidup layak yang harus segera dipulihkan.
Fenomena macet Cileungsi–Gunung Putri kini melampaui isu transportasi. Ia menyentuh aspek sosial, ekonomi, bahkan psikologis. Ketika pekerja kehilangan waktu produktif dan usaha kecil kehilangan pelanggan, maka kemacetan telah menjadi krisis multidimensi.
Desakan publik kepada Gubernur Jawa Barat mencerminkan kebutuhan akan kebijakan yang tidak sekadar reaktif, melainkan sistematis. Tanpa langkah nyata, kemacetan akan terus menjadi luka sosial yang menggerogoti kualitas hidup warga.
Di balik deru mesin dan klakson yang bersahutan, ada rindu sederhana: pulang tepat waktu, menikmati senja bersama keluarga, dan merasakan hidup tanpa beban macet. Bagi warga Cileungsi, harapan itu bukan sekadar mimpi, melainkan hak yang layak diperjuangkan. Seperti cinta yang menuntut kehadiran nyata, mereka menunggu pemerintah hadir bukan dengan janji, melainkan dengan tindakan. Karena di setiap jalan yang terurai, ada kehidupan yang kembali bersemi, dan di setiap solusi yang nyata, ada cinta yang tumbuh untuk Jawa Barat.


