Menggugat Estetika Kekuasaan dan Matinya Nurani Pers
Opini Redaksi Dalam rangka Hari Pers Nasional 2026
Jingga News – Ada satu kesalahan klasik yang terus berulang dalam cara negara membaca realitas: terlalu percaya pada apa yang terlihat. Seolah-olah kerapian visual identik dengan kemajuan, dan keseragaman tampilan otomatis menandakan kesejahteraan. Dalam logika semacam ini, atap rumah yang seragam, cat dinding yang cerah, dan wajah permukiman yang tertata diberi makna berlebihan—bukan sebagai sarana hidup, melainkan sebagai indikator sukses kebijakan.
Negara tampak sibuk membenahi kulit, tetapi lupa merawat isi. Di sinilah masalah bermula: ketika estetika menggantikan etika, dan citra menyingkirkan nurani.
Filsafat Estetika Kekuasaan dan Ilusi Kemajuan
Dalam filsafat politik, kekuasaan kerap tergoda pada simbol karena simbol lebih mudah dikelola daripada kenyataan. Ia bisa difoto, dilaporkan, dan dipresentasikan dalam rapat-rapat koordinasi yang steril. Kampung yang atapnya seragam terlihat “maju” dari udara, meski di bawahnya warganya masih berkutat dengan kemiskinan yang sama.
Estetika kekuasaan bekerja dengan cara menenangkan mata, bukan menyelesaikan masalah. Ia menciptakan ilusi kemajuan: tampak berubah, tetapi tak bergerak. Secara ontologis, ini adalah penipuan terhadap esensi pembangunan. Kemajuan sejati tak pernah lahir dari seragamnya atap, melainkan dari merdekanya manusia di bawahnya.
Namun, dalam syahwat pencitraan, kemiskinan dianggap soal tampilan, bukan struktur; seakan-akan hidup layak bisa dicapai dengan memperbaiki rupa, bukan memperkuat hak.
Kausalitas yang Lumpuh: Rakyat Bukan Foto Udara
Secara hukum dan kausalitas nyata, pembangunan seharusnya berangkat dari kebutuhan dasar (sebab) untuk menghasilkan kesejahteraan (akibat). Namun, negara sering kali membalik logika ini. Kebijakan dirancang dari kejauhan—secara harfiah dan metaforis.
Dari meja perencanaan, kehidupan direduksi menjadi peta, grafik, dan citra satelit. Desa dilihat sebagai objek tata ruang, bukan sebagai ruang hidup. Yang dihitung adalah bentuk, bukan beban; yang ditata adalah tampilan, bukan penderitaan.
Rakyat tidak hidup dalam sudut pandang drone. Mereka hidup di bawah atap apa pun yang mampu mereka beli, sambil memikirkan besok: apakah ada uang untuk makan, apakah anak bisa tetap sekolah, atau apakah sakit hari ini harus kembali ditahan karena biaya medis yang mencekik.
Ketika kebijakan tak menyentuh kecemasan semacam ini, negara hadir bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai pengamat yang dingin—atau fotografer yang hanya peduli pada komposisi gambar.
Pers: Antara Watchdog atau Makeup Artist?
Krisis ini diperparah oleh kegagalan pers dalam menjalankan fungsi kontrolnya. Salah satu penyebab mengapa negara terus terjebak dalam politik permukaan adalah karena pers terlalu memberi ruang pada politik pencitraan.
Alih-alih menjadi pembongkar tabir, pers kerap kali justru menjadi “penata rias” bagi kekuasaan. Ruang-ruang redaksi dipenuhi narasi yang memuja keindahan fisik pembangunan, tetapi enggan masuk ke gang-gang sempit untuk mendengar jeritan yang nyata.
Pers yang membebek pada logika “asal terlihat bagus” adalah pers yang sedang mengkhianati nuraninya sendiri. Tanpa kemandirian dari belenggu kekuasaan dan ketergantungan ekonomi, pers berubah menjadi alat disinformasi yang elegan—ikut melestarikan penderitaan rakyat di balik polesan cat warna-warni.
Momentum Refleksi: Hari Pers Nasional 2026
Dalam momentum Hari Pers Nasional 2026, Jingga News menegaskan kembali bahwa pers adalah pilar utama demokrasi. Pers bukan sekadar penyampai berita, tetapi pengawal kebenaran, pengontrol kekuasaan, dan ruang hidup bagi suara rakyat.
Di tengah tekanan ekonomi media, infiltrasi kepentingan, dan banjir disinformasi, kemerdekaan pers bukan sesuatu yang diwariskan, melainkan sesuatu yang harus terus diperjuangkan.
Pers harus berani merobek kulit yang sedang dipoles negara, untuk menunjukkan bahwa di bawahnya ada isi yang sedang sekarat. Hanya dengan keberanian itu, pers layak disebut penjaga martabat kemanusiaan.
Penutup
Terima kasih kepada seluruh insan pers yang masih memilih berdiri di garda terdepan, yang berani bersikap kritis terhadap estetika kekuasaan, dan yang konsisten berpihak pada kepentingan rakyat.
Teruslah merdeka. Teruslah tajam. Jangan biarkan kebenaran terkubur di bawah lapisan citra palsu. Sebab kemajuan bangsa ini tidak diukur dari seberapa indah ia dipotret dari udara, melainkan dari seberapa bermartabat nyawa manusia yang hidup di dalamnya.
Selamat Hari Pers Nasional 2026.

