Sanggar Ferla Fasilitasi FORI Salurkan Bantuan Sosial di Desa Kedung Pengawas Babelan
Jingga News, Babelan, Bekasi – Sore itu, langit Babelan tampak teduh. Jarum jam menunjukkan pukul 16.35 WIB ketika suasana permukiman padat penduduk masih berjalan seperti biasa.
Anak-anak bermain di gang sempit, ibu-ibu sibuk di dapur, dan para pekerja mulai kembali ke rumah setelah seharian mencari nafkah.
Namun ketenangan itu perlahan berubah ketika rombongan Forum Relawan Indonesia (FORI) datang dengan fasilitasi dari Sanggar Ferla pimpinan Bapak Sanin Ferla di Desa Kedung Pengawas, Babelan.
Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan, melainkan membawa semangat kepedulian dalam tajuk kegiatan “Aksi Nyata untuk Sesama.”
Gang-gang kecil di Desa Kadung Pengawas sore itu menjadi saksi pertemuan antara ketulusan dan harapan.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Para relawan menyusuri lorong demi lorong dengan membawa paket bantuan sosial yang telah dipersiapkan rapi. Wajah-wajah penasaran menyambut kedatangan mereka. Tak butuh waktu lama, rasa ingin tahu itu berubah menjadi senyum hangat.
Satu per satu warga keluar dari rumah. Ada yang masih mengenakan celemek dapur, ada pula yang masih mengenakan pakaian kerja. Mereka berkumpul di depan rumah masing-masing, menyambut para relawan dengan antusias.
Suasana yang semula biasa saja mendadak terasa akrab. Sapaan sederhana berubah menjadi percakapan hangat.
Air Mata Haru di Ujung Sore
Momen paling menyentuh terjadi ketika bantuan mulai diserahkan. Seorang nenek lanjut usia tampak menahan haru saat menerima paket bantuan. Tangannya bergetar pelan, matanya berkaca-kaca.
Ia tak banyak bicara. Namun senyum dan sorot matanya berbicara lebih dari kata-kata. Ada rasa syukur, ada rasa diperhatikan.
Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, perhatian langsung seperti ini terasa begitu berarti. Bukan semata isi bantuan yang membuat mereka terharu, tetapi kehadiran relawan yang datang dengan niat tulus untuk peduli.
Dialog Tanpa Sekat
FORI bersama Sanggar Ferla tidak hanya membagikan bantuan lalu pergi. Mereka duduk bersama warga di bangku kayu sederhana di tepi gang. Percakapan mengalir tentang kebutuhan pokok yang semakin mahal, persoalan kesehatan, hingga harapan untuk anak-anak mereka.
Para relawan mendengarkan dengan saksama dan mencatat sejumlah keluhan warga. Interaksi itu terasa hangat dan setara—tanpa jarak, tanpa formalitas berlebihan.
Pak Ahmad, salah satu warga, mengaku terharu atas kegiatan tersebut.
“Kami jarang sekali dikunjungi seperti ini. Rasanya sangat bahagia. Setidaknya kami merasa tidak dilupakan,” ujarnya tulus.
Menyalakan Semangat Anak-Anak
Menjelang pukul 17.00 WIB, suasana semakin ramai. Anak-anak mulai mendekat, penasaran dengan kegiatan sore itu. Tawa mereka pecah di sela pembagian bantuan.
Para relawan juga memberi pesan agar anak-anak tetap rajin belajar dan tidak menyerah pada keadaan.
“Keadaan boleh terbatas, tapi cita-cita jangan,” ujar Farid Gemilang salah satu relawan menyemangati.
Bagi para relawan, dukungan moral sama pentingnya dengan bantuan fisik. Bantuan materi bisa habis, namun semangat dan perhatian akan membekas lebih lama di hati warga.
Senja Menutup, Harapan Tumbuh
Saat waktu mendekati pukul 17.30 WIB, langit Babelan berubah jingga. Matahari perlahan tenggelam, menandai berakhirnya kegiatan sosial tersebut.
Para relawan berpamitan satu per satu. Ucapan terima kasih mengalir dari warga Desa Kadung Pengawas yang merasa diperhatikan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen FORI bersama Sanggar Ferla untuk terus menebar kepedulian di berbagai wilayah yang membutuhkan.
Senja di Babelan memang telah usai. Namun semangat berbagi yang tumbuh sore itu diharapkan terus menyala dan menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk saling menguatkan.


