Pemkot Bekasi Gandeng Komunitas, Targetkan Pembersihan Ikan Sapu-Sapu di Kali Bekasi pada Puncak Kemarau

Jingga News, Bekasi – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi resmi mengumumkan rencana aksi besar-besaran untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di aliran Kali Bekasi.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap laporan meningkatnya populasi spesies invasif tersebut yang dinilai mulai mengancam keseimbangan ekosistem perairan lokal.

Aksi ini direncanakan akan mencapai puncaknya pada periode musim kering, yakni sekitar Juni hingga Juli 2026.

Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, menegaskan bahwa intervensi ini mendesak untuk dilakukan guna menjaga keberlangsungan fauna asli sungai.

Menurutnya, kondisi Kali Bekasi yang sering kali mengalami penurunan kualitas air justru menjadi ruang tumbuh yang ideal bagi ikan sapu-sapu, yang dikenal memiliki daya tahan luar biasa terhadap polusi.

Rencana pembasmian ini akan kita fokuskan pada periode musim kering. Berdasarkan perkiraan cuaca dan tren tahunan, debit air biasanya berada pada titik terendah sekitar bulan Juni atau Juli. Di saat itulah kita akan bergerak,” ujar Bobihoe saat memberikan keterangan di Bekasi Selatan, Selasa (21/4/2026).

Ancaman di Balik Surutnya Air

Prediksi mengenai musim kemarau tahun 2026 yang diperkirakan akan lebih kering dibandingkan beberapa tahun terakhir menjadi alarm tersendiri bagi pemerintah daerah.

Fenomena alam ini diprediksi akan membuat populasi ikan sapu-sapu (Loricariidae) muncul ke permukaan dalam jumlah yang signifikan.

Karakteristik ikan ini yang mampu bertahan hidup dengan kadar oksigen minimal membuat mereka sering kali mendominasi habitat ketika spesies ikan lokal lainnya kesulitan bertahan hidup.

Bobihoe menambahkan, keberadaan ikan sapu-sapu di Kali Bekasi bukanlah fenomena baru. Namun, intensitas kemunculannya yang terus meningkat setiap tahun menuntut adanya tindakan nyata yang terstruktur.

Selama beberapa tahun terakhir, populasinya terus muncul dan semakin terlihat jelas. Jika dibiarkan, dominasi mereka akan mematikan rantai makanan bagi ikan-ikan asli sungai kita,” jelasnya.

Senada dengan Wakil Wali Kota, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis LH) Kota Bekasi, Kiswatiningsih, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap titik-titik persebaran ikan invasif tersebut.

Meskipun secara masif jumlahnya belum separah kondisi sungai di wilayah DKI Jakarta, Kiswatiningsih menekankan pentingnya langkah preventif sebelum populasi tersebut mencapai titik yang tidak terkendali.

Kolaborasi Strategis dan Teknis Lapangan

Menyadari kompleksitas penanganan sungai, Pemkot Bekasi tidak bergerak sendiri. Dinas Lingkungan Hidup dipastikan akan berkolaborasi erat dengan Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C).

Komunitas ini dikenal memiliki rekam jejak panjang dalam pengawasan dan pelestarian aliran sungai di wilayah perbatasan Bogor dan Bekasi.

Kolaborasi ini mencakup pendalaman teknis mengenai metode pengangkatan ikan agar hasil yang dicapai bisa maksimal tanpa merusak struktur bantaran sungai.

Salah satu tantangan dalam pembasmian ikan sapu-sapu adalah kemampuan mereka untuk bersarang di lubang-lubang pinggiran sungai, yang secara tidak langsung dapat mempercepat erosi jika tidak ditangani dengan hati-hati.

Bulan Juni, saat debit air benar-benar turun, ikan-ikan ini akan terlihat dengan jelas. Kami bersama rekan-rekan dari KP2C sedang mematangkan teknisnya, apakah menggunakan jaring khusus atau metode manual lainnya yang paling efektif namun tetap aman bagi lingkungan,” tambah Kiswatiningsih.

Dampak Ekologis yang Luas

Keberadaan ikan sapu-sapu sering kali dianggap sebagai “pembersih” karena kebiasaannya memakan alga. Namun, para ahli lingkungan berpendapat sebaliknya dalam konteks ekosistem sungai terbuka. Ikan ini tidak memiliki predator alami di perairan Indonesia, sehingga populasinya meledak tanpa kendali.

Ketimpangan populasi ini menyebabkan ikan lokal seperti tawes, nilem, dan gabus kehilangan sumber makanan dan tempat bertelur.

Selain aspek biologis, bangkai ikan sapu-sapu yang mati dalam jumlah besar saat kekeringan ekstrem juga sering kali menimbulkan masalah bau menyengat yang mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sepanjang bantaran Kali Bekasi.

Harapan Pasca-Aksi

Pemerintah Kota Bekasi berharap aksi ini dapat menjadi momentum untuk memulihkan kembali kualitas biodiversitas di Kali Bekasi.

Selain pembasmian, Pemkot juga berencana untuk terus mengedukasi masyarakat agar tidak membuang ikan hias atau spesies asing ke aliran sungai, yang sering menjadi akar masalah munculnya spesies invasif.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber termasuk laporan Wartakotalive di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *