Syukur: Cahaya yang Tumbuh dari Kekurangan

Syukur Bukan Milik yang Punya Segalanya

Aku kira syukur hanya tumbuh di tanah yang subur.
Ternyata ia justru mekar di tanah yang retak.
Bukan karena segalanya cukup, tapi karena hati belajar melihat cukup.

Ada masa ketika aku merasa syukur adalah hak istimewa. Milik mereka yang hidupnya utuh, yang doanya terkabul, yang jalannya lancar. Aku melihat orang-orang tersenyum di tengah kelimpahan dan berpikir, “Mereka pantas bersyukur.” Sementara aku, dengan luka-luka kecil yang belum sembuh, merasa belum layak.

Namun waktu mengajarkanku bahwa syukur tidak tumbuh dari kelimpahan, tapi dari kesadaran. Ia bukan hasil dari memiliki segalanya, tapi dari melihat apa yang masih ada. Ia bukan tentang sempurna, tapi tentang cukup. Dan cukup bukan ukuran benda, tapi ukuran hati.

Syukur tidak menunggu hidup menjadi ideal. Ia hadir di tengah kekurangan, di sela-sela yang retak, di antara harapan yang belum terwujud. Ia tidak menuntut perbaikan total, hanya mengajak kita melihat ulang. Melihat ulang apa yang selama ini kita anggap biasa, tapi ternyata berharga.

Seperti napas yang tetap terjaga. Seperti mata yang masih bisa menangkap cahaya. Seperti tangan yang masih bisa menggenggam. Seperti teman yang masih mau mendengar. Semua itu bukan hal kecil. Tapi sering kali kita lupa, karena sibuk mengejar yang belum ada.

Syukur mengajarkanku untuk berhenti sejenak. Untuk tidak terus-menerus menilai hidup dari apa yang kurang. Untuk tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk menunda bahagia. Ia mengajak kita hadir sepenuhnya, bahkan dalam hidup yang tidak utuh.

Aku mulai belajar bahwa syukur bukan tentang membandingkan. Ia tidak tumbuh dari melihat hidup orang lain, tapi dari menyentuh hidupku sendiri. Ia tidak berkata “lihat mereka,” tapi “lihat dirimu.” Ia tidak mengajakku iri, tapi mengajakku kembali. Kembali ke dalam. Kembali ke ruang batin yang sering kutinggalkan.

Dan di sana, aku menemukan bahwa kekurangan bukan musuh. Ia adalah ruang kosong yang bisa diisi dengan makna. Ia adalah celah yang bisa menjadi pintu. Ia adalah retakan yang bisa menjadi tempat tumbuh. Syukur tidak menuntut kesempurnaan, ia hanya meminta kehadiran.

Syukur juga bukan tentang menutupi luka. Ia tidak memaksa kita untuk pura-pura bahagia. Ia hanya mengajak kita melihat sisi lain dari luka itu. Bahwa di balik rasa sakit, ada pelajaran. Di balik kehilangan, ada ruang baru. Di balik kecewa, ada kedalaman yang tidak bisa dibeli.

Dan dalam proses itu, aku belajar bahwa syukur adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk tetap melihat cahaya, meski gelap belum pergi. Keberanian untuk tetap mencintai hidup, meski belum sesuai harap. Keberanian untuk tetap hadir, meski hati belum sepenuhnya pulih.

Syukur juga mengajarkanku bahwa hidup bukan tentang memiliki, tapi tentang mengalami. Tentang merasakan angin pagi. Tentang mendengar suara hujan. Tentang memeluk seseorang tanpa kata. Tentang menangis dan tahu bahwa air mata itu tidak sia-sia. Dan semua itu adalah bentuk syukur yang tidak berisik, tapi dalam.

Jadi jika suatu hari kamu merasa tidak cukup, jangan buru-buru mengusir rasa itu. Duduklah bersamanya. Lihat sekelilingmu. Sentuh hal-hal kecil yang masih ada. Dan biarkan syukur tumbuh pelan-pelan. Bukan sebagai paksaan, tapi sebagai pelukan.

Sebab syukur bukan tentang menutupi luka, tapi tentang memberi cahaya pada luka itu. Bukan tentang menyangkal kekurangan, tapi tentang menemukan makna di dalamnya. Bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang menjadi cukup—cukup untuk tetap hidup, cukup untuk tetap mencinta, cukup untuk tetap berjalan.

🌿 Lanjutkan perjalanan batinmu…
Temui syukur dalam bentuk lain: bukan sebagai rasa puas, tapi sebagai ruang tumbuh yang lembut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *