Syukur: Cahaya yang Tumbuh dari Kekurangan
Syukur Bukan Menyangkal Kekurangan, Tapi Melihat yang Masih Ada
Syukur tidak menutup mata dari luka.
Ia hanya mengajak kita melihat sisi lain dari luka itu.
Bukan untuk menghapus, tapi untuk memberi cahaya di sela-selanya.
Aku pernah merasa bersyukur itu berarti menolak kenyataan. Seolah dengan bersyukur, aku harus berhenti mengeluh, berhenti merasa sedih, berhenti mengakui bahwa ada yang kurang. Tapi ternyata, syukur bukan tentang menyangkal. Ia justru tentang mengakui, lalu melihat dari sudut yang lebih lembut.
Syukur tidak memaksa kita untuk bahagia. Ia tidak berkata, “Jangan sedih.” Ia hanya mengajak kita melihat bahwa di balik kesedihan, ada hal-hal kecil yang tetap hadir. Ia tidak menghapus luka, tapi memberi cahaya di sela-selanya. Ia tidak menutup mata, tapi membuka hati.
Dalam syukur, aku belajar bahwa kekurangan bukan hal yang harus disembunyikan. Ia adalah bagian dari hidup. Ia adalah bagian dari cerita. Ia adalah bagian dari proses. Dan syukur adalah cara untuk tetap berjalan, meski cerita itu belum selesai.
Syukur juga bukan tentang membandingkan. Ia tidak tumbuh dari melihat hidup orang lain yang lebih mudah, lebih indah, lebih lengkap. Ia tumbuh dari melihat hidupku sendiri, dengan segala retaknya, dengan segala celahnya, dengan segala yang belum selesai. Ia tumbuh dari kejujuran.
Dan dalam kejujuran itu, aku menemukan bahwa ada banyak hal yang masih bisa kusyukuri. Mata yang masih bisa menangis. Hati yang masih bisa merasa. Pikiran yang masih bisa merenung. Tubuh yang masih bisa bergerak. Semua itu bukan hal kecil. Tapi sering kali kita lupa, karena sibuk melihat yang belum ada.
Syukur mengajarkanku untuk berhenti sejenak. Untuk tidak terus-menerus menilai hidup dari apa yang kurang. Untuk tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk menunda bahagia. Ia mengajak kita hadir sepenuhnya, bahkan dalam hidup yang tidak utuh.
Aku mulai belajar bahwa syukur bukan tentang menutupi luka. Ia tidak memaksa kita untuk pura-pura bahagia. Ia hanya mengajak kita melihat sisi lain dari luka itu. Bahwa di balik rasa sakit, ada pelajaran. Di balik kehilangan, ada ruang baru. Di balik kecewa, ada kedalaman yang tidak bisa dibeli.
Dan dalam proses itu, aku belajar bahwa syukur adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk tetap melihat cahaya, meski gelap belum pergi. Keberanian untuk tetap mencintai hidup, meski belum sesuai harap. Keberanian untuk tetap hadir, meski hati belum sepenuhnya pulih.
Syukur juga mengajarkanku bahwa hidup bukan tentang memiliki, tapi tentang mengalami. Tentang merasakan angin pagi. Tentang mendengar suara hujan. Tentang memeluk seseorang tanpa kata. Tentang menangis dan tahu bahwa air mata itu tidak sia-sia. Dan semua itu adalah bentuk syukur yang tidak berisik, tapi dalam.
Jadi jika suatu hari kamu merasa tidak cukup, jangan buru-buru mengusir rasa itu. Duduklah bersamanya. Lihat sekelilingmu. Sentuh hal-hal kecil yang masih ada. Dan biarkan syukur tumbuh pelan-pelan. Bukan sebagai paksaan, tapi sebagai pelukan.
Sebab syukur bukan tentang menutupi luka, tapi tentang memberi cahaya pada luka itu. Bukan tentang menyangkal kekurangan, tapi tentang menemukan makna di dalamnya. Bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang menjadi cukup—cukup untuk tetap hidup, cukup untuk tetap mencinta, cukup untuk tetap berjalan.
🌿 Lanjutkan perjalanan batinmu…
Temui syukur dalam bentuk lain: bukan sebagai penghiburan palsu, tapi sebagai kehadiran yang jujur.

