Syukur: Cahaya yang Tumbuh dari Kekurangan

Syukur Bukan Tentang Jumlah, Tapi Tentang Cara Memandang

Yang banyak belum tentu membahagiakan.
Yang sedikit belum tentu menyedihkan.
Syukur mengubah cara kita melihat, bukan jumlah yang kita miliki.

Aku pernah terjebak dalam hitungan. Menghitung pencapaian, menghitung kekurangan, menghitung apa yang belum kudapat. Dan semakin aku menghitung, semakin aku merasa kurang. Seolah hidup adalah perlombaan angka, dan aku selalu tertinggal. Di tengah hiruk-pikuk itu, syukur terasa seperti ilusi.

Tapi perlahan, aku belajar bahwa syukur bukan tentang jumlah. Ia tidak tumbuh dari banyaknya benda, tingginya pencapaian, atau ramainya pujian. Ia tumbuh dari cara kita memandang. Dari sudut yang tidak sibuk membandingkan, tapi sibuk merasakan. Dari mata yang tidak hanya melihat, tapi juga menyentuh.

Syukur mengajarkanku bahwa satu pelukan bisa lebih berarti dari seribu kata. Bahwa satu senyuman bisa lebih dalam dari ratusan hadiah. Bahwa satu momen tenang bisa lebih menyembuhkan dari banyaknya kesibukan. Ia mengubah ukuran. Ia mengubah makna. Ia mengubah cara kita hadir.

Dalam syukur, aku belajar bahwa hidup bukan tentang mengumpulkan, tapi tentang mengalami. Tentang menyeduh teh dengan tenang. Tentang menatap langit tanpa tergesa. Tentang mendengar suara hujan dan membiarkannya menyentuh hati. Semua itu tidak bisa dihitung, tapi bisa dirasakan. Dan syukur adalah rasa itu.

Syukur juga bukan tentang menutup mata dari kekurangan. Ia tidak memaksa kita untuk pura-pura bahagia. Ia hanya mengajak kita melihat ulang. Melihat ulang hal-hal kecil yang selama ini kita anggap biasa. Seperti napas yang masih terjaga. Seperti tubuh yang masih bisa bergerak. Seperti hati yang masih bisa merasa.

Dan dari sana, aku tahu: syukur bukan tentang besar, tapi tentang dekat. Ia tinggal di hal-hal kecil yang sering kulewatkan. Ia hadir dalam pelan-pelan. Dalam diam. Dalam jeda. Dalam ruang yang tidak ramai, tapi penuh makna.

Syukur juga mengajarkanku bahwa membandingkan adalah racun. Bahwa melihat hidup orang lain sebagai ukuran hanya membuatku lupa pada hidupku sendiri. Ia mengajakku kembali. Kembali ke dalam. Kembali ke ruang batin yang sering kutinggalkan. Dan di sana, aku menemukan bahwa hidupku tidak seburuk yang kukira.

Aku mulai belajar bahwa syukur adalah bentuk kebijaksanaan. Kebijaksanaan untuk tidak tergesa. Untuk tidak serakah. Untuk tidak terus-menerus merasa kurang. Ia adalah cara untuk berkata, “Ini cukup.” Bukan karena tidak ingin lebih, tapi karena tahu bahwa yang ada sudah layak disyukuri.

Syukur juga bukan tentang pasrah. Ia bukan tentang berhenti berharap. Ia adalah tentang berharap dengan hati yang tenang. Tentang melangkah dengan kesadaran. Tentang menerima dengan lembut. Ia adalah tentang tetap hidup, meski belum sempurna.

Dan dalam proses itu, aku belajar bahwa syukur adalah bentuk cinta. Cinta pada diriku sendiri, karena aku tidak memaksakan. Cinta pada kehidupan, karena aku tidak menyerah. Cinta pada harapan, karena aku tetap menjaganya meski kecil. Syukur adalah cara mencintai tanpa syarat, tanpa tergesa-gesa.

Jadi jika suatu hari kamu merasa hidupmu tidak cukup, jangan buru-buru menilai dari jumlah. Duduklah sebentar. Lihat ulang. Rasakan ulang. Dan biarkan syukur mengubah cara pandangmu. Bukan sebagai paksaan, tapi sebagai pelukan.

Sebab syukur bukan tentang seberapa banyak yang kamu punya, tapi seberapa dalam kamu bisa melihat. Bukan tentang angka, tapi tentang makna. Bukan tentang luar, tapi tentang dalam. Dan dalam kedalaman itu, syukur menjadi cahaya yang tidak menyilaukan, tapi menenangkan.

🌿 Lanjutkan perjalanan batinmu…
Temui syukur dalam bentuk lain: bukan sebagai perbandingan, tapi sebagai pelukan pada yang ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *