Syukur: Cahaya yang Tumbuh dari Kekurangan

Syukur Bukan Diam, Tapi Doa yang Dihidupi

Syukur tidak selalu diucapkan.
Kadang ia hadir dalam cara kita menyeduh teh, menyapu lantai, atau menatap langit.
Ia adalah doa yang tidak bersuara, tapi terasa.

Aku pernah mengira syukur harus diucapkan. Harus dinyatakan dalam kata-kata, dalam doa yang panjang, dalam kalimat yang indah. Tapi waktu mengajarkanku bahwa syukur tidak selalu berbentuk suara. Ia bisa hadir dalam gerak. Dalam cara kita menjalani hari. Dalam cara kita memperlakukan hidup.

Syukur bukan tentang kata, tapi tentang sikap. Ia bukan tentang doa yang lantang, tapi tentang hati yang lembut. Ia bukan tentang ritual, tapi tentang kehadiran. Kehadiran yang penuh kesadaran. Kehadiran yang tidak tergesa. Kehadiran yang tidak menuntut.

Dalam syukur, aku belajar bahwa setiap hal kecil bisa menjadi doa. Menyeduh teh dengan tenang. Menata ruang dengan cinta. Menyapu lantai dengan kesadaran. Menatap langit dengan harapan. Semua itu adalah bentuk syukur yang tidak berisik, tapi dalam.

Syukur juga mengajarkanku bahwa hidup bukan tentang besar, tapi tentang dekat. Tentang menyentuh hal-hal kecil yang sering kulewatkan. Tentang memberi perhatian pada yang sederhana. Tentang merawat yang ada, bukan hanya mengejar yang belum ada.

Dan dari sana, aku tahu: syukur bukan tentang menunggu momen besar. Ia hadir dalam keseharian. Dalam rutinitas. Dalam pelan-pelan. Dalam diam. Ia adalah doa yang tidak bersuara, tapi terasa. Ia adalah cinta yang tidak ditunjukkan, tapi dijalani.

Syukur juga bukan tentang menutupi luka. Ia tidak memaksa kita untuk pura-pura bahagia. Ia hanya mengajak kita hadir sepenuhnya, bahkan dalam hidup yang tidak utuh. Ia mengajak kita menjalani hari dengan lembut, meski hati belum sepenuhnya pulih.

Dalam syukur, aku belajar bahwa kehadiran adalah bentuk doa. Bahwa menyimak adalah bentuk cinta. Bahwa memberi ruang adalah bentuk pengakuan. Dan semua itu adalah syukur yang tidak perlu kata-kata. Ia cukup dengan sikap. Ia cukup dengan kesetiaan.

Syukur juga mengajarkanku bahwa tidak semua harus dijelaskan. Kadang, cukup dengan dijalani. Cukup dengan dihadiri. Cukup dengan diberi ruang. Dan syukur adalah ruang itu. Ruang yang tidak menghakimi. Ruang yang tidak memaksa. Ruang yang hanya ada, dan itu sudah menyembuhkan separuhnya.

Aku mulai belajar bahwa syukur adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk tetap hadir, meski tidak sempurna. Keberanian untuk tetap mencintai, meski belum utuh. Keberanian untuk tetap berjalan, meski belum tahu arah. Dan semua itu adalah doa yang tidak diucapkan, tapi dihidupi.

Jadi jika suatu hari kamu merasa tidak punya kata untuk berdoa, jangan khawatir. Lihat cara kamu menjalani hari. Lihat cara kamu memperlakukan orang lain. Lihat cara kamu menyentuh hidup. Dan di sana, kamu akan menemukan syukur. Bukan sebagai kata, tapi sebagai sikap.

Sebab syukur bukan tentang seberapa sering kamu mengucapkannya, tapi seberapa dalam kamu menjalaninya. Bukan tentang seberapa indah doamu, tapi seberapa lembut langkahmu. Bukan tentang seberapa banyak yang kamu punya, tapi seberapa penuh kamu hadir.

Dan dalam kehadiran itu, syukur menjadi doa yang paling jujur. Doa yang tidak dibuat-buat. Doa yang tidak dipaksakan. Doa yang tidak tergesa. Doa yang cukup dengan satu napas yang dijaga, satu langkah yang disadari, satu pelukan yang tidak ditunda.

🌿 Lanjutkan perjalanan batinmu…
Temui syukur dalam bentuk lain: bukan sebagai kata, tapi sebagai cara menjalani hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *