Stabil untuk Investor, Berat untuk Rakyat
Jingga News, Bekasi, (09/11/2025) — Pemerintah Indonesia, melalui Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa stabilitas ekonomi tetap terjaga dengan pertumbuhan sekitar 5% di kuartal pertama 2025.
Namun di lapangan, rakyat masih merasakan beban hidup yang berat, sementara investor menatap peluang dengan aman.
Data World Bank dan IMF menunjukkan pertumbuhan moderat dan konsumsi domestik yang lambat, memperlihatkan kontradiksi antara klaim resmi dan kenyataan yang dirasakan masyarakat.
1. Klaim Stabil Pemerintah
Di podium megah Bursa Efek Jakarta, Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian, menegaskan bahwa ekonomi Indonesia “fundamentally solid” (MetroTVNews, 1 September 2025).
Angka 5 % di kuartal pertama 2025 terdengar seperti mantra yang menenangkan pasar dan menebar rasa aman, memberi kesan pengendalian penuh di tengah ketidakpastian global.
Semua tercatat, semua terdengar, semua percaya—atau setidaknya, percaya di permukaan.
Namun stabilitas versi pejabat bukanlah realitas sehari-hari rakyat.
Paket kebijakan lapangan kerja, meski menjanjikan jutaan peluang, bergerak lambat di lapangan.
Harga pokok, inflasi, dan pekerjaan informal tetap menekan kehidupan masyarakat.
Angka 5 % hanyalah simbol; bukan napas yang dirasakan di jalan-jalan dan pasar rakyat.
2. Data Makro dan Proyeksi Dunia
Di atas kertas, World Bank mencatat pertumbuhan kuartal I 2025 sebesar 4,9 % YoY, dengan proyeksi 2025–2027 sekitar 4,8 % per tahun, sambil menekankan bahwa pertumbuhan moderat dan ketergantungan pada pasar global membuat stabil terdengar lebih seperti harapan daripada kenyataan (World Bank, 23 Juni 2025).
IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan Indonesia untuk 2025 menjadi 4,7 %, dan Fitch Ratings memperingatkan bahwa konsumsi domestik yang lemah membuat target 5 % penuh tantangan (Reuters, 7 Mei 2025).
Angka-angka ini menunjukkan bahwa stabilitas yang sesungguhnya bukanlah lonjakan pertumbuhan, melainkan perlambatan yang terukur, atau secara tegas harus dinyatakan lambat dan terukur.
Di satu sisi menenangkan dunia; di sisi lain tetap menuntut rakyat untuk merangkak di atas kondisi yang berat.
3. Kontradiksi Pengamat Nasional
Pakar ekonomi nasional menegaskan bahwa itu adalah ketidaksesuaian antara narasi pemerintah dan kenyataan.
CSIS menulis bahwa “economic growth remains stubbornly flat at around 5 percent … employment creation remains sluggish” (CSIS, 2025). L
Survei LPEM FEB UI Februari 2025 menunjukkan bahwa 55 % ahli menilai ekonomi memburuk dibanding kuartal sebelumnya (LPEM FEB UI, 2025).
Kontradiksi ini jelas: di podium ada mantra stabil, di lapangan ada langkah berat rakyat yang terhambat.
Stabilitas bukan sekadar angka, tapi kemampuan rakyat untuk bergerak maju tanpa terseret masalah yang menumpuk. Tanpa ini, klaim resmi hanyalah simbol kosong.
4. Kenyataan Masih di Dalam Lumpur
Stabilitas versi pejabat adalah mantra yang menenangkan dunia.
Bagi rakyat, itu adalah lumpur yang menahan langkah, kontradiksi yang hidup antara angka besar di podium dan realitas di jalan.
Filosofinya sederhana dan menohok: janji besar bukan kehidupan; mantra indah bukan kenyataan.
Stabilitas yang nyata hanya tercapai bila keadilan hadir, distribusi dirasakan, dan rakyat bisa menapak tanah yang kuat tanpa terseret. Hari ini, stabil
terdengar di konferensi pers, terdokumentasi, dikutip (MetroTVNews, 1 September 2025). Tetapi bagi rakyat yang merangkak, kenyataan masih di dalam lumpur—pelan, berat, dan harus diraih sendiri.
Di sanalah kearifan muncul—membedakan antara narasi dan kenyataan, menapak meski lumpur menahan setiap langkah.
Karena stabilitas sejati bukan mantra pejabat, melainkan hakikat yang dirasakan setiap warga, satu langkah demi satu langkah, menuju kehidupan yang adil dan bermakna.
Dan di setiap napas perjuangan, ada romantika kehidupan yang lahir dari keteguhan hati, dari langkah kecil yang menolak menyerah di tengah lumpur zaman.

