Pasar Cibarusah: Nadi Ekonomi yang Menyala Sejak Sebelum Pagi

Tim JinggaNews.com Menyusuri Keramaian Minggu Pagi, Menyimak Cerita Para Pedagang

Jingga News, Cibarusah — Minggu pagi, 16 November 2025. Udara masih lembap sisa malam ketika jam baru menunjuk pukul 04.00 WIB. Namun di Pasar Cibarusah, kehidupan sudah berdenyut lebih cepat dari matahari.

Lampu-lampu kios memercikkan cahaya hangat, bercampur dengan aroma rempah dan riuh tawar-menawar yang mengalir dari lorong ke lorong—sebuah lanskap ekonomi rakyat yang tak pernah benar-benar terlelap.

Tim JinggaNews.com hadir menyimak denyut pasar yang telah puluhan tahun menjadi pusat kehidupan warga Cibarusah, Bojongmangu, Serang Baru, hingga Lemahabang.

Di sinilah pagi dimulai lebih awal, dan rezeki bergerak sebelum hari terang.

Hidup Sejak Sebelum Pagi

Saat tim tiba, para pedagang sayur sudah menggelar dagangan. Kangkung hijau segar tersusun seperti barisan daun yang baru dipetik dari embun malam.

Kol yang masih dingin, cabai merah yang mengilap memantulkan lampu, hingga pisang ranum menggantung di tiang-tiang kayu kios.

Kalau kami nggak mulai jam empat, malah ketinggalan. Pembeli pertama itu bawa rezeki,” ujar Ibu Yani, pedagang sayur yang sudah 18 tahun menempati lapaknya.

Senyumnya ramah meski tangan tak berhenti merapikan daun kemangi.

Tak jauh dari sana, deretan pedagang ikan sudah sibuk memindahkan nila, lele, dan gurami ke atas meja.

Suara air yang ditimba dan ember beradu menciptakan irama khas pasar yang tak tergantikan.

Aroma Kopi, Uap Kue Basah, dan Kehangatan Pagi

Bagian kuliner menjadi magnet tersendiri. Dari balik kios kayu, aroma kopi hitam menembus pagi, menyatu dengan wangi kue pasung, risoles, talam pandan, dan nagasari yang masih mengepulkan uap.

Baru matang, masih panas!” sapa Mak Inah—pedagang kue basah yang sudah berjualan sejak 1998, jauh sebelum pasar direnovasi seperti sekarang.

Tim JinggaNews sempat berbincang sejenak.

Tim JinggaNews: “Mak, Minggu begini biasanya lebih ramai ya?”

Mak Inah: “Iya, banyak yang belanja buat keluarga, ada yang cari sarapan. Yang penting semua kebagian rezeki. Pasar ini sudah kayak keluarga besar.”

Di sudut lain, aroma sayur sop dan gulai ayam dari warung kecil menguar—menggoda siapa pun untuk berhenti, duduk, dan menikmati sarapan pasar yang menggugah kenangan.

Obrolan di Lapak Daging: Kedekatan yang Tak Tergantikan

Di bagian dalam, lapak daging menjadi pusat keramaian. Pak Udin, pedagang daging sapi, tengah melayani pelanggan sambil sesekali bercanda, membuat suasana lebih cair.

Tim JinggaNews: “Pak, apa yang membuat Pasar Cibarusah tetap ramai meski banyak pasar modern?”

Pak Udin: “Di sini lebih terasa dekatnya, Mas. Orang datang bukan cuma beli, tapi ngobrol, nanya kabar, kadang curhat. Barang juga fresh, harga lebih luwes. Itu yang bikin pasar tradisional tetap hidup.”

Tawa kecil dari pedagang dan pembeli seakan menjadi musik latar yang tak pernah berhenti.

Pasar: Ruang Ekonomi, Ruang Sosial, Ruang Kehidupan

Pasar Cibarusah bukan hanya lokasi transaksi.

Ia adalah ruang sosial—tempat orang bertemu setiap hari, membicarakan kabar, membangun jejaring, hingga menyelesaikan urusan hidup.

Di sinilah kebutuhan masyarakat selatan Bekasi dipenuhi, dari bahan pokok, bumbu dapur, hingga lauk harian.

Saat matahari akhirnya merayap naik, sinarnya menyusup melalui sela-sela atap seng, menciptakan nuansa yang hangat.

Keramaian pasar kian menjadi, namun tetap terasa bersahabat—sebuah potret kehidupan rakyat yang sederhana namun mengakar dalam.

Warisan yang Menjaga Identitas Kota Kecil

Dari kunjungan ini, Tim JinggaNews melihat bahwa Pasar Cibarusah lebih dari sekadar bangunan konkret.

Ia adalah nadi kehidupan, ruang yang menyatukan berbagai lapisan sosial, tempat cerita ditukar dan rezeki dibagi.

Di tengah derasnya arus modernisasi, pasar tradisional seperti inilah yang menjaga identitas lokal tetap berdiri.

Pasar Cibarusah adalah pengingat bahwa kehidupan ekonomi rakyat berjalan paling jujur di lorong-lorong sederhana yang penuh kehangatan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *