Mendoan Cibarusah: Hangat, Gurih, dan Penuh Kenangan
Jingga News, Cibarusah, (26/11/2025) – Pada malam yang baru reda dari hujan, aroma mendoan Cibarusah yang mengepul dari gerobak sederhana di pinggir jalan menghadirkan kehangatan kuliner jalanan Cibarusah, mengingatkan kembali pada lembutnya tempe mendoan Bekasi yang dulu sering menemani masa kecil.
Menjadi jajanan malam Cibarusah yang sederhana namun menggugah rasa, mendoan itu berubah menjadi cerita kuliner nostalgia yang pelan-pelan menuntun hati pulang ke kampung halaman.
Malam Rabu yang basah baru saja mereda ketika langkah kami terhenti pada sebuah gerobak sederhana di tepi Jalan Raya KH Ma’mun Nawawi, Kampung Cibogo. Di sana, dalam cahaya kuning lampu pijar yang temaram, tertera tulisan yang begitu akrab bagi lidah orang Jawa: “Mendoan Tempe.” Aroma gurihnya menyeruak, menyentuh hidung seperti sapaan hangat yang lama dirindukan.
Di balik wajan panas itu berdiri Mas Joko, lelaki ramah yang sudah lima tahun setia menggoreng mendoan untuk para pelintas malam. “Tiga ribu satu biji, bisa pakai cabai rawit hijau atau sambal kecap,” ujarnya sambil tersenyum ketika kami menanyakan harga.
Bagi sebagian orang, ini sekadar camilan. Bagi kami, ini adalah potongan kecil masa lalu yang kembali hadir.
Tanpa pikir panjang kami menyerahkan uang Rp15.000. Mas Joko pun segera membungkus pesanan, sementara aroma tempe yang baru diangkat dari minyak terus menggoda.
Ketika mendoan itu akhirnya sampai di tangan, hangatnya seperti menembus hingga ke dada—mengusik rindu yang sudah lama terpendam.
Satu gigitan membawa kami kembali pada hari-hari sederhana di kampung halaman.
Mendoan adalah sajian yang tak pernah absen dari meja makan, baik pagi, siang, maupun malam.
Orang tua kami sering berkata, “Makan tanpa mendoan itu seperti sayur sop tanpa garam.”
Sebuah kalimat yang baru kami pahami maknanya hari ini: bukan soal makanan, tapi tentang kehangatan rumah, kebersamaan, dan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Di gerobak kecil ini, resepnya tetap sama seperti yang diajarkan turun-temurun: tempe lembaran tipis, adonan tepung terigu yang dicampur sedikit tapioka atau tepung beras, bumbu halus berisi bawang putih, ketumbar, garam, dan kaldu bubuk, ditambah irisan daun bawang yang memberi aroma segar.
Tempe dicelupkan ke dalam adonan, lalu digoreng sebentar saja hingga berciri khas setengah matang—lembut di dalam, gurih di luar.
Di antara hiruk pikuk jalan raya dan dinginnya malam setelah hujan, mendoan ini bukan sekadar jajanan.
Ia adalah jembatan kecil yang menghubungkan kami pada masa-masa indah di desa dulu—masa ketika tawa keluarga, senyuman ibu, dan dentingan piring di dapur terasa begitu dekat.
Di Cibarusah malam itu, melalui tangan Mas Joko, mendoan kembali menjadi cerita. Dan di setiap gigitannya, kampung halaman kembali hidup

