Narsisme di Komplek Perumahan: Antara Kebanggaan dan Kehilangan Harmoni
“Rumah bukan sekadar bangunan, melainkan cermin jiwa penghuninya. Di balik dinding dan pagarlp, tersimpan cerita tentang kebanggaan, harapan, dan kadang… ego yang ingin dipuja.”
Komplek sebagai miniatur kehidupan
Komplek perumahan adalah miniatur masyarakat. Rumah-rumah berdiri berdampingan, jalan kecil menjadi jalur pertemuan, dan suara anak-anak berlari menjadi musik pengikat hati.
Gotong royong bukan sekadar kata, melainkan praktik nyata: kerja bakti membersihkan selokan, arisan mempererat silaturahmi, hingga senyum tetangga yang menjadi obat penat.
Namun, harmoni ini tidak selalu utuh. Ada riak kecil yang kadang mengganggu permukaan danau sosial: narsisme. Ia hadir bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai sikap yang tumbuh dari dalam diri sebagian warga.
Apa itu narsisme di lingkungan sosial?
Narsisme bukan sekadar rasa percaya diri. Ia adalah cinta diri berlebihan, kebutuhan untuk dipuji, dan ketidakmampuan merasakan perasaan orang lain.
Dalam konteks komplek perumahan, narsisme tampak sederhana: mobil baru yang sengaja diparkir di depan rumah agar semua tetangga melihat, pesta ulang tahun meriah tanpa peduli ada warga yang berduka, atau sikap meremehkan tetangga yang dianggap “biasa saja”.
Narsisme menjadikan pencapaian pribadi sebagai panggung ego, bukan jembatan kebersamaan.
Antara kebanggaan dan kehilangan harmoni
Tidak ada yang salah dengan rasa bangga atas pencapaian. L
Memiliki rumah setelah bertahun-tahun mengontrak adalah kebahagiaan yang patut dirayakan. Namun, ketika kebanggaan itu berubah menjadi sikap meremehkan orang lain, maka ia kehilangan makna sejatinya.
Narsisme mengubah komplek perumahan dari taman solidaritas menjadi arena persaingan status. Ia membuat kebanggaan pribadi menjadi tembok yang memisahkan, bukan jembatan yang menyatukan.
Insight untuk pembaca
Halaman pertama ini mengajak kita untuk melihat narsisme bukan sekadar sebagai sifat individu, tetapi sebagai tantangan sosial yang nyata di lingkungan tempat kita tinggal. Ia tumbuh dari kombinasi faktor internal (pola asuh, rasa tidak aman) dan eksternal (budaya konsumerisme, media sosial, perubahan status sosial).
Komplek perumahan, yang seharusnya menjadi ruang kebersamaan, bisa berubah menjadi arena persaingan status jika narsisme dibiarkan tumbuh tanpa kendali.
Komplek perumahan seharusnya menjadi puisi tentang kebersamaan, di mana setiap rumah adalah bait yang saling melengkapi. Namun, ketika narsisme menyelinap, bait itu kehilangan harmoni.
Meski begitu, seperti bulan yang tetap bersinar meski awan menutupinya, nilai gotong royong dan kerendahan hati selalu punya peluang untuk kembali menyinari jalan komplek.
➡️ Lanjut ke Halaman 2: mengenali wajah narsisme lebih dekat—bentuk-bentuk perilaku yang muncul dalam kehidupan sehari-hari di komplek perumahan.

