Narsisme di Komplek Perumahan: Antara Kebanggaan dan Kehilangan Harmoni
Wajah Narsisme dalam Kehidupan Sehari-hari
Kadang narsisme tidak datang dengan teriakan, melainkan dengan senyum yang menyembunyikan rasa ingin dipuja. Ia hadir di jalan komplek, di rapat RT, bahkan di pesta kecil yang seharusnya sederhana.”
Pamer Kepemilikan
Di komplek perumahan, pamer kepemilikan adalah wajah narsisme yang paling mudah dikenali. Mobil baru diparkir di depan rumah, bukan sekadar kendaraan, melainkan simbol status. Taman rumah dihias berlebihan, bukan untuk kenyamanan keluarga, melainkan untuk memastikan tetangga melihat betapa indahnya dekorasi itu.
Pamer kepemilikan sering kali membuat lingkungan terasa seperti panggung kompetisi, bukan ruang kebersamaan.
Kebutuhan Dipuja
Narsisme juga tampak dalam kebutuhan untuk selalu dipuja. Dalam rapat RT, ada warga yang menekankan bahwa dialah penyumbang terbesar, sehingga merasa berhak mengatur jalannya diskusi. Dalam acara sosial, ada yang hadir bukan untuk membantu, melainkan untuk memastikan dirinya terlihat.
Kebutuhan dipuja menjadikan kegiatan sosial kehilangan makna sejatinya: dari ruang silaturahmi menjadi arena validasi ego.
Kurang Empati
Kurangnya empati adalah wajah narsisme yang paling menyakitkan. Bayangkan ketika ada tetangga yang sedang berduka, namun seorang warga tetap mengadakan pesta meriah dengan musik keras. Atau ketika ada warga yang kesulitan, tetapi tetangga narsistik memilih menutup mata karena merasa itu bukan urusannya.
Kurang empati membuat komplek kehilangan kehangatan yang seharusnya menjadi ciri khas kehidupan bersama.
Eksploitasi Sosial
Narsisme tidak hanya soal pamer, tetapi juga soal memanfaatkan orang lain. Ada warga yang sering meminjam barang mahal tanpa mengembalikan tepat waktu. Ada pula yang menggunakan jabatan di kepengurusan RT untuk kepentingan pribadi.
Eksploitasi sosial menjadikan hubungan antarwarga tidak lagi setara, melainkan hierarki semu di mana satu orang merasa lebih berhak daripada yang lain.
Perasaan Berhak
Perasaan berhak adalah wajah narsisme yang paling jelas. Warga narsistik merasa aturan komplek tidak berlaku untuk dirinya. Ia parkir sembarangan, menolak ikut kerja bakti, atau menuntut perlakuan khusus dari satpam.
Perasaan berhak ini mengikis norma sosial bersama, membuat warga lain merasa tidak adil, dan menimbulkan ketegangan yang berulang.
Dampak pada Kehidupan Sehari-hari
Ketika wajah-wajah narsisme ini muncul, komplek perumahan perlahan kehilangan harmoni:
- Kerja bakti menjadi berat karena ada yang hadir hanya untuk dipuji.
- Arisan berubah menjadi ajang membandingkan perhiasan dan pencapaian.
- Rapat RT dipenuhi suara ego, bukan suara kebersamaan.
Narsisme menjadikan komplek perumahan bukan lagi taman solidaritas, melainkan panggung kecil di mana ego tampil berlebihan.
Komplek perumahan seharusnya menjadi puisi tentang kebersamaan, di mana setiap rumah adalah bait yang saling melengkapi.
Namun, wajah narsisme membuat bait itu retak: pamer menggantikan syukur, ego menggantikan empati, dan gengsi menggantikan gotong royong.
Meski begitu, seperti bunga yang tetap mekar meski angin kencang mengguncangnya, harapan selalu ada. Nilai solidaritas dan kerendahan hati bisa kembali tumbuh jika warga mau menanamnya bersama.
➡️ Lanjut ke Halaman 3: telusuri akar narsisme—mengapa ia tumbuh, apa yang memicunya, dan bagaimana perubahan status sosial bisa menjadi bahan bakar bagi ego.

