Narsisme di Komplek Perumahan: Antara Kebanggaan dan Kehilangan Harmoni
Ketika Ego Mengikis Gotong Royong
“Narsisme bukan hanya tentang satu individu. Ia adalah riak yang menyebar, mengganggu harmoni, dan perlahan mengikis jantung kehidupan sosial: gotong royong.”
Dampak pada Kehidupan Sehari-hari
Ketika narsisme hadir di komplek perumahan, dampaknya terasa nyata:
- Kerja bakti kehilangan makna: sebagian warga datang hanya untuk dipuji, bukan untuk bekerja.
- Arisan berubah fungsi: dari ruang silaturahmi menjadi ajang membandingkan perhiasan dan pencapaian.
- Rapat RT penuh ego: suara kebersamaan tenggelam oleh suara yang ingin mendominasi.
Narsisme menjadikan kegiatan sosial yang seharusnya untuk memperkuat solidaritas justru melemahkan ikatan antarwarga.
Ketegangan Antarwarga
Ketegangan muncul ketika ada warga yang merasa aturan tidak berlaku untuk dirinya. Parkir sembarangan, menolak ikut kerja bakti, atau menuntut perlakuan khusus dari satpam adalah contoh kecil yang bisa memicu konflik.
Ketegangan ini tidak selalu meledak, tetapi sering hadir sebagai bisikan: gosip di warung, sindiran di jalan, atau rasa enggan untuk bertegur sapa.
Menurunnya Solidaritas
Solidaritas adalah jantung komplek perumahan. Namun, narsisme membuat jantung itu berdetak lemah. Warga mulai enggan bekerja sama, merasa tidak adil, dan memilih menjaga jarak.
Gotong royong yang dulu menjadi kebanggaan berubah menjadi formalitas. Kehangatan yang dulu terasa kini digantikan oleh dinginnya gengsi.
Sikap Warga yang Seharusnya
Bagaimana warga lain sebaiknya bersikap?
- Tetap sopan dan netral, tidak terpancing ego.
- Menegakkan aturan bersama secara kolektif.
- Menguatkan gotong royong agar solidaritas lebih menonjol daripada gengsi.
- Memberi batasan sehat terhadap eksploitasi.
- Tidak memberi validasi berlebihan pada pameran.
- Mengajak dengan empati agar warga narsistik merasa diterima tanpa harus pamer.
Dengan sikap ini, warga bisa menjaga keseimbangan antara ketegasan dan empati.
Peran Kepemimpinan RT/RW
RT/RW memiliki peran penting dalam menjaga harmoni. Kepemimpinan yang bijak bisa menengahi konflik, menegakkan aturan dengan adil, dan menekankan nilai kebersamaan.
RT/RW bukan sekadar pengurus administratif, melainkan penjaga ekosistem sosial. Dengan kepemimpinan yang tegas sekaligus empatik, narsisme bisa ditekan agar tidak merusak harmoni.
Harapan di Tengah Ego
Meski narsisme bisa mengganggu, harapan selalu ada. Warga yang sadar akan pentingnya kebersamaan bisa menjadi penyeimbang.
Mereka adalah lilin kecil yang menyinari jalan komplek, meski ada bayangan ego yang mencoba menutupinya.
Harapan ini tumbuh dari sikap sederhana: senyum tulus, sapaan hangat, dan tangan yang mau bergandengan dalam kerja bakti.
Komplek perumahan adalah puisi yang ditulis bersama. Setiap rumah adalah bait, setiap warga adalah kata, dan setiap kegiatan sosial adalah irama.
Narsisme mungkin membuat bait itu retak, tetapi kebersamaan bisa memperbaikinya.
Seperti hujan yang membersihkan debu di jalan, solidaritas bisa membersihkan ego yang berlebihan.
Dan ketika warga memilih untuk menanam empati, komplek akan kembali menjadi taman yang indah—tempat di mana setiap rumah bukan sekadar bangunan, melainkan bait puisi yang saling melengkapi.
➡️ Lanjut ke Halaman 5: membahas pencegahan — serta bagaimana menjaga harmoni di tengah ego, dan langkah praktis agar komplek tetap menjadi ruang solidaritas, bukan panggung narsisme.

