Tim JinggaNews Menyapa Kelenteng Tua di Cibarusah: Menghitung Napas Sejarah di Tengah Harmoni Umat

Jingga News, Cibarusah, Bekasi Minggu pagi, 16 November 2025, sekitar pukul 09.30, langkah Tim JinggaNews terhenti pada satu titik sunyi yang memancarkan wibawa ratusan tahun: Kelenteng Ngo Kok Ong, salah satu situs budaya tertua di selatan Kabupaten Bekasi.

Di tengah dominasi masyarakat Muslim, rumah ibadah ini berdiri teduh—seperti pelita yang menjaga ingatan tentang perjumpaan, perjalanan, dan perdamaian.

Aroma dupa menyambut rombongan kami saat memasuki area kelenteng. Para pengurus menerima dengan senyum hangat, lalu perlahan membuka kisah yang sudah lama dipeluk bangunan merah tua itu.

Didirikan pada Abad ke-17: Jejak Perdagangan dan Perjumpaan

Menurut para pengelola, kelenteng ini dibangun pada abad ke-17 oleh seorang tokoh Tionghoa yang menetap dan memiliki lahan di wilayah Cibarusah.

Pada masa itu, jalur perdagangan melintasi pedalaman Bekasi, membawa para pendatang Tionghoa untuk singgah, bermukim, dan berbaur dengan penduduk lokal.

Waktu itu banyak pendatang hidup berdampingan dengan warga sini. Dari kebutuhan spiritual merekalah kelenteng ini lahir,” tutur salah satu pengurus kepada JinggaNews.

Kelenteng kemudian menjadi tempat ibadah bagi komunitas Tionghoa sekaligus simbol keberadaan mereka.

Sosok dewa pelindung pertanian dan kemakmuran dipuja di dalamnya—sebuah refleksi dari kehidupan agraris yang pernah menjadi denyut nadi Cibarusah.

Toleransi yang Bertumbuh Tanpa Ingkar Waktu

Meski berdiri di tengah kawasan Muslim, kelenteng ini hampir tak pernah tersentuh gesekan sosial.

Hubungan antara warga Tionghoa dan penduduk pribumi terbangun di atas saling percaya dan saling menjaga—warisan sosial yang mengalir hingga hari ini.

Warga di sini rukun. Semua saling menghormati. Bahkan banyak warga sekitar yang ikut membantu saat kelenteng direnovasi,” ujar salah satu pengurus.

Letak kelenteng yang berdekatan dengan fasilitas umum dan permukiman memperlihatkan betapa naturalnya toleransi tumbuh di Cibarusah—tanpa formalitas, tanpa pretensi, hanya kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ruang Ibadah, Ruang Sosial, Ruang Kebudayaan

Kelenteng Ngo Kok Ong tidak semata menjadi tempat ritual, tetapi juga rumah sosial bagi komunitas Tionghoa. Saat hari besar dirayakan, suasananya meriah namun tetap inklusif.

Kami selalu berusaha membuka ruang. Ada saja warga yang datang sekadar melihat atau bersilaturahmi. Ini warisan yang kita jaga bersama,” tambah pengurus lain.

Beberapa kegiatan budaya yang digelar di kelenteng bahkan menjadi jembatan pengetahuan, mempertemukan warga sekitar dengan tradisi Tionghoa yang mungkin belum pernah mereka lihat dari jarak sedekat ini.

Menjaga Ingatan di Tengah Laju Zaman

Meski beberapa bagian bangunan telah direstorasi, struktur utama dan ruh kelenteng tidak diubah. Kayu-kayu tua, ukiran klasik, hingga warna merah yang menghangatkan mata tetap dipertahankan.

Di bagian belakang, tim JinggaNews diperlihatkan sebuah sumur tua yang dipercaya tidak pernah kering sejak dahulu.

Mitos dan realita berkelindan di sana—menjadikannya salah satu fragmen paling menarik dari sejarah panjang kelenteng.

Warisan yang Menyatukan Nusantara Kecil Bernama Cibarusah

Kunjungan ini mengajarkan satu hal: keberagaman bukan konsep abstrak. Ia hidup, bernapas, dan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari warga Cibarusah.

Kelenteng Ngo Kok Ong adalah saksi bisu bahwa perbedaan keyakinan bukan alasan untuk berjarak. Justru sebaliknya—ia menjadi jembatan yang mempersatukan.

Di tengah derasnya modernisasi, kelenteng ini tetap teguh berdiri. Bukan hanya sebagai rumah ibadah, tetapi sebagai warisan kemanusiaan yang mengikat masa lampau, sekarang, dan mungkin masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *