Di Balik Suara Ting… Ting… di Malam Hari: Sekoteng, Kehangatan Tradisi yang Terus Hidup di Tengah Modernitas
Jingga News, (16/11/2025) — Malam merayap pelan, udara semakin menggigit, dan rumah-rumah mulai berlabuh pada kehangatan ruang keluarga.
Televisi menyala, game di ponsel berganti-ganti, namun ada jeda sunyi yang tiba-tiba retak oleh suara yang begitu akrab: ting… ting… ting…
Ritme sederhana itu bukan sekadar tanda dagangan lewat—ia adalah detak tradisi yang menolak padam.
Panggilan Malam yang Menghangatkan Warga
Suara yang muncul dari kejauhan itu memantik reaksi spontan dari sebuah rumah:
“Sekuteeeng!” seru seorang ibu rumah tangga dengan antusias polos yang tak pernah berubah meski zaman terus melaju.
Sang suami keluar tergesa, membawa mangkuk kosong yang sebentar lagi akan terisi lebih dari sekadar minuman: aroma nostalgia, cerita kecil yang hangat, dan rasa yang menenangkan tenggorokan juga hati.
Racikan Hangat dari Tangan yang Menjaga Tradisi
Penjual sekoteng—pria paruh baya yang memilih tetap anonim—menyambut pelanggannya dengan senyum lembut.
Di bawah cahaya lampu jalan, ia meracik bahan-bahan dengan gerakan tangan yang terlatih: pelan, pasti, penuh perasaan.
Roti tawar dipotong kecil. Pacar cina, kacang hijau, dan kacang tanah mengikuti, saling melengkapi dalam mangkuk.
Lalu, air jahe panas bercampur susu dituangkan perlahan, mengeluarkan uap harum yang langsung memeluk malam.
“Kalau malam begini, sekoteng pas banget,” katanya sambil mengaduk. “Hangatnya beda. Kalau siang, rasanya kurang ‘greget’.”
Ucapannya sederhana, namun sarat pemahaman tentang warisan kuliner yang ia jaga dengan langkah kaki yang tak pernah lelah.
Murah di Harga, Mahal di Kenangan
Dengan lima ribu rupiah, pembeli membawa pulang satu mangkuk sekoteng yang hangatnya tak sekadar terasa di bibir, tapi juga di dada.
Rasa manis dan gurihnya merayap ke seluruh tubuh — menghidupkan kenangan masa kecil, memanggil momen kebersamaan, dan memberi jeda bagi malam yang kadang terasa terlalu sunyi.
Di tengah gempuran minuman kekinian, sekoteng hadir sebagai penegas bahwa kehangatan sejati sering kali sederhana.
Langkah Menjauh, Tradisi Tetap Menyala
Setelah beberapa pelanggan terlayani, sang penjual kembali melangkah pelan, memeluk dinginnya jalanan.
Suara ting… ting… ting… kembali menggema, makin menjauh namun tak pernah benar-benar hilang.
Di era yang serba cepat, sekoteng adalah jeda kecil yang tak tergantikan—sebuah pengingat bahwa di balik setiap malam yang dingin, selalu ada kehangatan yang menunggu lewat dari kejauhan.

