Mengungkap Fakta Mengejutkan: Dokter Dibungkam, Pasien Diperah
Dokter dan Pasien sebagai Korban
Di balik setiap lembar tagihan rumah sakit, ada wajah yang menunduk. Ada pasien yang menahan sakit, ada dokter yang menahan empati.
Mereka berdua berdiri di panggung yang sama, tetapi bukan sebagai aktor utama. Mereka hanyalah korban dari naskah besar yang ditulis oleh regulasi dan politik, sebuah drama yang mengalir tanpa pernah menanyakan apakah hati manusia masih ikut bicara.
Pasien yang Dipaksa Membayar
Pasien datang dengan luka, membawa harapan sederhana: sembuh. Namun yang mereka terima sering kali hanyalah formalitas.
Sapaan singkat dokter jaga dicatat sebagai observasi. Percakapan ringan dianggap konsultasi. Pergantian shift dokter otomatis menjadi visit.
Pasien membayar atas sesuatu yang tidak nyata. Mereka membayar atas bayangan layanan, bukan atas penyembuhan. Mereka membayar atas celah aturan yang sah secara hukum, tetapi cacat secara keadilan.
Dokter yang Terjebak dalam Sistem
Ironisnya, dokter pun tidak bebas. Mereka dibungkam oleh sistem administrasi yang memaksa setiap interaksi dicatat sebagai jasa.
Dokter yang ingin berempati, terjebak dalam kode billing. Dokter yang ingin menyapa pasien dengan tulus, dipaksa melihat sapaan itu berubah menjadi angka.
Dokter kehilangan kebebasan untuk menentukan makna sejati dari “visit” atau “konsultasi.” Dokter bukan pelaku, melainkan korban.
Mereka dipaksa menjadi bagian dari mesin uang, meski hati mereka ingin menjadi bagian dari penyembuhan.
Simfoni Luka
Bayangkan sebuah simfoni. Pasien adalah nada yang lelah, dokter adalah nada yang tertahan. Namun konduktor simfoni ini bukan mereka, melainkan sistem hukum dan politik.
Pasien dipaksa membayar atas nada yang tidak pernah dimainkan. Dokter dipaksa memainkan nada yang tidak pernah mereka pilih. Simfoni ini bukan tentang penyembuhan, melainkan tentang transaksi.
Simfoni luka ini terus dimainkan, dan manusia hanyalah instrumen yang dipaksa berbunyi sesuai partitur yang ditulis oleh regulasi.
Dimensi Kemanusiaan yang Hilang
Kemanusiaan seharusnya menjadi inti dari layanan kesehatan.
Namun ketika empati berubah menjadi transaksi, kemanusiaan pun hilang.
Pasien kehilangan hak untuk merasa dirawat. Dokter kehilangan hak untuk berempati.
Hubungan manusiawi antara pasien dan dokter digantikan oleh hubungan administratif antara pasien dan sistem.
Kemanusiaan hilang, digantikan oleh angka.
Filosofi Korban
Dalam filsafat, korban adalah mereka yang kehilangan kendali atas hidupnya.
Pasien kehilangan kendali atas tagihan. Dokter kehilangan kendali atas empati. Mereka berdua kehilangan kendali atas makna sejati dari layanan kesehatan.
Korban bukan hanya mereka yang menderita, tetapi juga mereka yang dipaksa mengikuti sistem yang tidak adil.
Dokter dan pasien adalah korban ganda: korban regulasi yang cacat, sekaligus korban demokrasi yang cacat.
Rakyat sebagai Akar Masalah
Mengapa dokter dan pasien menjadi korban? Karena UU lahir dari parlemen dengan kualitas SDM rendah.
Anggota dewan dipilih bukan karena kapasitas, melainkan karena politik uang. Rakyat menerima uang, lalu memilih wakil yang tidak punya roh perjuangan. Akibatnya, UU lahir bukan untuk rakyat, melainkan untuk kepentingan oligarki.
Dokter dan pasien pun menjadi korban dari pilihan rakyat sendiri.
Namun di balik luka itu, masih ada harapan. Harapan bahwa suatu hari, dokter akan kembali bebas berempati. Harapan bahwa pasien akan kembali merasa dirawat.
Harapan bahwa sistem kesehatan akan kembali menjadi ruang kemanusiaan, bukan ruang transaksi.
Karena di balik setiap luka, ada cahaya. Dan cahaya itu adalah kemanusiaan yang tidak pernah padam.

