Mengungkap Fakta Mengejutkan: Dokter Dibungkam, Pasien Diperah

Politik Uang dan Oligarki

Di balik setiap kursi parlemen, ada jejak yang tidak selalu terlihat.

Jejak itu bukan sekadar langkah perjuangan, melainkan langkah transaksi.

Demokrasi yang seharusnya menjadi ruang suci bagi suara rakyat, perlahan berubah menjadi pasar yang riuh.

Di sana, suara bukan lagi amanah, melainkan komoditas. Politik uang menjadi pintu masuk, dan oligarki menjadi pengendali panggung.

Politik Uang sebagai Fondasi yang Rapuh

Politik uang bukan sekadar praktik sesaat menjelang pemilu. Ia adalah fondasi rapuh yang melahirkan parlemen dengan kualitas rendah.

Rakyat menerima uang, lalu memilih caleg yang tidak punya roh perjuangan.

Anggota dewan lahir bukan dari kapasitas, melainkan dari kekuatan finansial.

Demokrasi pun kehilangan makna, karena suara rakyat dijual di pasar politik.

Ketika suara dijual, maka hak moral untuk protes pun hilang.

Oligarki sebagai Dalang

Di balik politik uang, ada oligarki.

Kelompok pemilik modal besar yang menguasai rumah sakit, jaringan kesehatan, bahkan partai politik.

Oligarki memesan regulasi yang menguntungkan mereka.

UU kesehatan lahir bukan untuk rakyat, melainkan untuk memastikan aliran uang dari jasa visit dan konsultasi fiktif.

Dokter dibungkam oleh sistem, pasien diperah oleh tagihan, dan negara memberi legitimasi melalui pasal yang sah secara hukum.

Oligarki adalah dalang, parlemen hanyalah wayang.

Demokrasi yang Diperjualbelikan

Demokrasi seharusnya menjadi ruang perjuangan. Namun ketika politik uang merajalela, demokrasi berubah menjadi pasar.

Suara rakyat diperjualbelikan. Kursi parlemen diperjualbelikan. Regulasi pun diperjualbelikan.

Demokrasi kehilangan roh perjuangan, digantikan oleh roh transaksi.

Dokter dan Pasien dalam Jaring Oligarki

Dokter dan pasien bukan sekadar korban regulasi, tetapi juga korban oligarki.

Dokter kehilangan kebebasan untuk berempati, karena setiap interaksi sudah dikunci oleh kode billing.

Pasien kehilangan hak untuk membayar hanya atas layanan nyata, karena setiap formalitas sudah ditentukan nilainya.

Mereka berdua terjebak dalam jaring oligarki yang mengendalikan sistem kesehatan.

Rakyat yang Membiarkan

Ironisnya, rakyat sendiri yang membiarkan oligarki berkuasa.

Rakyat menerima uang, lalu memilih caleg yang tidak punya kapasitas.

Rakyat rela dibodohi, lalu kehilangan hak moral untuk protes.

Rakyat ikut melanggengkan sistem cacat yang merugikan mereka sendiri.

Ketika rakyat menjual suara, mereka menjual masa depan.

Filosofi Keadilan yang Hilang

Keadilan seharusnya menjadi inti dari demokrasi. Namun ketika politik uang dan oligarki berkuasa, keadilan pun hilang.

UU sah secara hukum, tetapi cacat secara keadilan.

Regulasi lahir bukan untuk rakyat, melainkan untuk kepentingan modal.

Keadilan hilang, digantikan oleh transaksi.

Namun di balik gelapnya oligarki, masih ada cahaya. Cahaya itu adalah rakyat yang berani menolak politik uang.

Cahaya itu adalah dokter yang berani berempati. Cahaya itu adalah pasien yang berani bersuara.

Karena di balik setiap suara, ada kehidupan. Dan setiap kehidupan layak dihargai dengan adil.

 

Baca Halaman 5 – Inti Masalah: Rakyat Tidak Berhak Protes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *