Mengungkap Fakta Mengejutkan: Dokter Dibungkam, Pasien Diperah
Inti Masalah: Rakyat Tidak Berhak Protes
Di ujung semua narasi luka, setelah dokter dibungkam dan pasien diperah, setelah regulasi lahir dari parlemen ber-SDM rendah, setelah oligarki menancapkan kuku-kuku modalnya, ada satu kebenaran yang paling pahit: rakyat sendiri yang melanggengkan semua ini.
Rakyat yang menerima uang, lalu menjual suara. Rakyat yang rela dibodohi, lalu kehilangan hak moral untuk protes.
Suara yang Dijual, Masa Depan yang Hilang
Suara rakyat adalah amanah. Ia adalah jembatan antara harapan dan kenyataan.
Namun ketika suara dijual, jembatan itu runtuh.
Suara yang dijual bukan hanya suara, melainkan masa depan.
Masa depan yang dijual bukan hanya masa depan individu, melainkan masa depan bangsa.
Ketika masa depan dijual, rakyat kehilangan hak untuk menuntut keadilan.
Suara yang dijual adalah doa yang dipatahkan sebelum sempat terbang ke langit.
Rakyat yang Membiarkan
Rakyat bukan sekadar korban, tetapi juga pelaku.
Dengan menerima politik uang, rakyat membiarkan parlemen diisi oleh SDM rendah.
Dengan memilih caleg tanpa roh perjuangan, rakyat membiarkan UU lahir tanpa jiwa.
Dengan menjual suara, rakyat membiarkan oligarki mengendalikan demokrasi.
Rakyat tidak berhak protes, karena sejak awal mereka sudah dibayar.
Demokrasi yang Cacat
Demokrasi cacat bukan karena sistem, tetapi karena perilaku rakyat.
Demokrasi cacat ketika suara dijual.
Demokrasi cacat ketika UU lahir bukan untuk rakyat, melainkan untuk kepentingan oligarki.
Demokrasi cacat melahirkan regulasi cacat. Regulasi cacat melahirkan korban.
Filosofi Tanggung Jawab
Dalam filsafat, tanggung jawab adalah konsekuensi dari pilihan.
Rakyat memilih caleg dengan uang, maka rakyat bertanggung jawab atas UU yang lahir.
Rakyat memilih wakil tanpa roh perjuangan, maka rakyat bertanggung jawab atas regulasi yang merugikan.
Rakyat menjual suara, maka rakyat bertanggung jawab atas hilangnya hak moral untuk protes.
Tanggung jawab tidak bisa ditolak, karena ia adalah konsekuensi dari pilihan.
Dokter dan Pasien sebagai Korban Rakyat
Dokter dan pasien bukan hanya korban regulasi, tetapi juga korban rakyat.
Dokter dibungkam oleh UU yang lahir dari parlemen ber-SDM rendah. Pasien diperah oleh sistem yang lahir dari politik uang. Mereka berdua menjadi korban dari pilihan rakyat sendiri.
Ironisnya, rakyat yang menjual suara ikut melahirkan korban dari dirinya sendiri.
Harapan yang Masih Ada
Namun di balik kebenaran pahit itu, masih ada harapan. Harapan bahwa rakyat akan berhenti menjual suara. Harapan bahwa rakyat akan memilih dengan hati, bukan dengan uang. Harapan bahwa demokrasi akan kembali jujur, dan UU akan lahir dengan roh perjuangan.
Harapan itu adalah cahaya yang tidak pernah padam.
Karena di balik setiap suara, ada kehidupan. Dan setiap kehidupan layak dihargai dengan jujur.
Rakyat tidak boleh lagi menjual masa depan. Rakyat tidak boleh lagi kehilangan hak moral untuk protes.
Rakyat harus kembali memilih dengan hati, agar demokrasi kembali menjadi ruang perjuangan.
Suara rakyat adalah cahaya.
Cahaya itu harus kembali bersinar, agar bangsa ini tidak lagi berjalan dalam gelap transaksi, tetapi dalam terang keadilan.
Baca Halaman 6 – Solusi: Jalan Pulang Demokrasi

